Resensi dan Sinopsis Novel Victory

Resume dan Unsur Intrinsik Novel Victory

Resensi dan Sinopsis Novel Victory - Artikel kali ini akan mengulas tentang resensi, sinopsis, unsur intrinsik, kelemahan, dan kelebihan dari novel Victory, berikut adalah pembahasan lengkapnya.

Resensi dan Sinopsis Novel Victory

Resensi dan Sinopsis Novel Victory

JudulVictory
PenulisLuna Torashyngu
PenerbitGramedia Pustaka Utama
Cetakan17 Januari 2011
Tahun TerbitMarcus Aurelius
Tahun2006
Tebal Buku296 Halaman
Ukuran Buku13 cm x 19 cm
Cover BukuWarna cover mendominasi biru tua yaitu sebagai latar belakang cover. Tulisan judul berwarna kuning, terletak di sebelah kanan atas dan nama pengarang berada dibawah judul, berwarna putih.

Abstrak "Novel Victory"

Luna Torashyngu, lahir di Purwokerto 13 Februari. Tidak terlalu banyak informasi yang didapat dari profile Luna Torashyngu, karena di novel-novel karangannya, tidak ada profile atau biodata tentang Luna Torashyngu. 

Ia mengikuti apa yang dikatakan oleh Shakespeare,"apa artinya sebuah profile?" Oleh karena itu Luna Torashyngu hanya ingin pembaca menyukai novelnya karena suka dengan ceritanya, dan bukan karena tau siapa penulisnya. 

Luna Torashyngu bukanlah nama asli dari pengarang novel Angel’s Heart ini. Dalam bahasa Spanyol, Luna berarti "bulan", sedangkan Torashyngu dipilih karena pengarang sangat suka dengan segala hal berbau Jepang, dari mulai masakan Jepang, musik, hingga dorama. 

Penyanyi favorit Luna Torashyngu adalah Ayumi Hamasaki, BoA, dan sedikit Laruku. Sedang film Jepang kesukaan Luna Torashyngu adalah YOMIGAERI dan dorama yang paling berkesan adalah LOVE GENERATION-nya Takuya Kimura dan Takako Matsu. 

Berikut ini adalah beberapa novel yang sudah ia ciptakan dengan cerita yang imajinatif diantaranya adalah Alpha Veta : Awal Dari Akhir (2005); Sweet Angel : The Pigeon (2005); Sweet Angel : The Rose (2005); Sweet Angel : The Princess (2005); Love Detective (2005); Victory (2006); Beauty And The Best (2006); Dua Rembulan (2006); Angel's Heart (2007); Lovasket (2007); D'Angel (2008); D'Angel : Rose (2008); D'Angel : Princess (2008); Best of The Best (2009); Mawar Merah : Mosaik (2009); Mawar Merah : Metamorfosis (2009); Lovasket 2 : For The Love of The Game (2010); Golden Bird : Beauty And The Best Series (2010); Mawar Merah : Matahari (2011); Lovasket 3 : The Final Game (2011); When Author Meets Editor (2012); Golden Bird Alpha (2012); Pelangi Untuk Rida (2013); Lovasket 4 : Your Heart (2013); Love, Secret, And Justice (2013), Menjadi Selamanya (2013), Golden Bird Ultimate (2014).

Sinopsis "Novel Victory"

Raka membuka selimut yang masih menutupi badannya sejak semalam. Matanya setengah terbuka dan berusaha untuk menajamkan pendengarannya seperti mendengar suara bel. Sayup-sayup memang terdengar suara bel rumahnya dan suara itulah yang membangunkan cowok tersebut dari alam mimpinya. Raka melihat jam yang tergantung pada dinding kamarnya yang menunjukkan pukul delapan lewat.

Dia menggerutu karena ada orang yang memainkan bel rumahnya dan mengganggu waktu tidurnya. Raka memang baru tidur setelah subuh, karena menonton pertandingan sepak bola di TV. Mumpung sekolah libur kenaikan kelas, Raka berniat untuk tidur sampai siang.

Tadinya Raka hanya membiarkan suara bel itu berbunyi, karena berpikir orang yang menekan bel itu akan mengira bahwa tidak ada orang di rumah lalu pergi. Dugaannya memang benar beberapa saat kemudian suara bel itu tak terdengar lagi, Raka merasa lega 

Akan  hal itu dan menarik selimutnya lagi bermaksud untuk tidur kembali. Tapi baru saja matanya hendak terpejam, suara bel itu kembali lagi berbunyi.

Raka menjerit di dalam hatinya dan mengomel tentang orang yang sudah mengganggu waktu tidurnya. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Raka mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya. Raka terhuyung-terhuyung membuka pintu kamarnya yang berada di lantai atas dan karena belum sepenuhnya kembali ke alam nyata, Raka sempat menabrak meja kecil yang ada di ruang tengah. 

Raka mengerang kecil menahan rasa yang lumayan sakit dan mengusap-ngusap lututnya yang terbentur meja. Bel masih terus berbunyi dan Raka berteriak kesal untuk memberitahu agar orang yang menekan bel itu sabar menunggu.

Raka menuju pintu rumahnya dengan wajah yang siap perang bermaksud untuk memarahi orang yang ada dibalik pintu tidak perduli siapa dia. Raka membuka pintu rumahnya dan Raka yang siap marah kini jadi melongo ketika seseorang langsung bertanya kepadanya apakah benar ini rumahnya Raka atau bukan. 

Di depannya berdiri seorang cewek berambut pendek dan bertopi merah. Cewek itu mengenakan T-shirt putih yang dibungkus jaket jins biru, sama dengan celana jinsnya dan sepatu kets putih. Di samping cewek itu tergeletak tas ransel yang berukuran besar.

Cewek itu menyadarkan Raka yang masih terbengong dan bertanya kembali apakah rumah ini benar rumah Raka atau bukan. Kemudian cewek itu bertanya lagi padanya apakah dia adalah Raka dan Raka menjawab iya lalu bertanya memangnya kenapa?

Cewek itupun bertanya pada Raka kenapa Raka tidak menjemputnya. Raka pun bingung dengan pertanyaan cewek yang ada di depannya. Cewek itu bertanya lagi apakah Papa sudah memberitahu Raka untuk menjemputnya ataukah Raka pura-pura lupa untuk menjemputnya. Selagi Raka kebingungan tentang apa yang terjadi, cewek itu nyelonong masuk ke dalam rumahnya.

Raka mencoba menghentikan cewek itu tapi cewek itu mengatakan untuk melupakan tentang tidak menjemputnya dan juga mengatakan bahwa Raka akan jawab kalau Papa menanyakan hal itu.

Raka semakin heran dengan sebutan nama Papa yang diucapkan cewek itu. Tiba-tiba Raka teringat sesuatu dan segera bertanya pada cewek itu apakah dia Oti? Victory?. Kini giliran cewek itu yang menatap Raka dengan pandangan heran dan bertanya pada Raka apakah Raka benar-benar tidak tahu siapa yang ada di depannya sekarang.

Raka malah balik bertanya memastikan apakah cewek yang ada di depannya itu adalah Oti. Cewek itu menjawab iya dan bertanya memangnya siapa lagi kalau bukan dia? Raka menepuk keningnya dan sekarang dia baru ingat.

Oti bertanya apakah Raka benar-benar melupakan pesan yang disampaikan Papa? Raka merasa tidak pernah menerima pesan dari ayahnya dan mengatakan kalau ayahnya pernah bilang bahwa Oti akan datang tapi tidak bilang kapan.

Oti menjelaskan bahwa Papanya sudah menelepon semalam dan menyampaikan pesan bahwa dia akan datang dan yang menerima pesan itu adalah Ai adiknya Raka. Raka  pun mengerti sekarang mengapa dia tidak menerima pesan itu, karena semalam Raka pulang larut malam dan Ai sudah tidur. Pasti Adiknya itu lupa menyampaikan pesan ayahnya.

Raka bertanya pada Oti mengapa dia tidak menelepon ke rumah dan Oti menjawab bahwa ia malas dan sudah berniat untuk mencari alamat rumah ini hitung-hitung keliling bandung meskipun nyasar tiga kali.

Oti melihat sekeliling rumah dan bertanya apakah boleh meminta air minum, ketika Raka hendak pergi untuk mengambilnya Oti mengatakan biar dia yang mengambilnya sendiri. Oti melangkah pergi menuju dapur meninggalkan Raka yang masih terdiam.

Raka atau lengkapnya Raka Pradana Putra, tinggal berdua dengan adiknya Airin Vastyana, atau biasa dipanggil Ai, yang masih duduk di kelas dua SMP di rumah yang mereka tempati sejak kecil. Saat Raka berusia lima tahun, ayah-ibu mereka memutuskan bercerai, karena ayahnya ketahuan selingkuh dengan janda beranak satu yang tinggal di Jakarta. Ayah Raka kemudian menikah dengan wanita itu dan pindah ke Jakarta meninggalkan rumah, ibu, Raka dan Ai yang waktu itu baru berusia kurang dari setahun.

Setelah bercerai, ibunya bertekad menghidupi kedua anaknya sendiri tanpa mau menikah lagi. Beliau berhasil menyekolahkan Raka hingga bangku SMA. Sementara ayah dan istri barunya kemudian pindah ke London, Inggris, karena oleh Perusahaan tempatnya bekerja Ayah Raka diangkat menjadi kepala cabang di sana.

Dua tahun yang lalu ibu Raka meninggal dalam kecelakaan lalu lintas saat akan berangkat kerja. Raka dan adiknya sangat terpukul saat itu. Untunglah ayah Raka tetap menanggung biaya hidup Raka dan adiknya. 

Bahkan ayahnya pernah meminta mereka pindah ke London, atau Jakarta, ke tempat paman Raka. Tapi Raka menolak selain tidak ingin meninggalkan sekolahnya disini, dia juga belum bisa sepenuhnya memaafkan tindakan ayahnya dulu, juga belum bisa menerima wanita yang sekarang menjadi ibu tirinya. Ayah Raka tidak bisa memaksa. Dia hanya rutin setiap bulan mengirim uang untuk biaya hidup Raka dan Ai.

Walaupun begitu Raka tidak ingin menggantungkan diri dari uang kiriman ayahnya. Karena itu selain sekolah, dia juga kerja freelance sebagai penyiar salah satu radio swasta di Bandung. Sejauh ini dia merasa masih bisa mengatur waktu antara sekolah dan mengurus rumah, bergantian dengan adiknya.

Beberapa waktu yang lalu ayahnya menelepon dan bilang bahwa anak wanita yang dinikahinya akan melanjutkan sekolah di Bandung. Ayah Raka menyuruh dia tinggal bersama Raka dan Ai. Mulanya Raka sempat keberatan, tapi ayahnya terus mendesak. 

Ayahnya meminta tolong agar Raka bisa mengawasi Oti seperti Raka mengawasi Ai. Kata kakeknya Oti sedikit nakal waktu di SMP. Makanya ayahnya sedikit khawatir kalau Oti tinggal bersama temannya, seperti rencana semula. 

Ayahnya juga menanyakan apakah Raka tidak khawatir meninggalkan Ai sendirian saat Raka pergi siaran malam dan Ayahnya mengatakan bahwa ia yakin mereka akan bisa akrab. Raka tidak bisa menjawab lagi dan menuruti keinginan ayahnya. Apalagi ayahnya berjanji akan menaikkan uang bulanan mereka. Raka hanya berharap semoga Oti tidak merepotkannya nanti.

Lamunan Raka buyar ketika Oti menegurnya. Kini Oti sudah duduk di sofa ruang tamu. Topi merahnya dilepas dan diletakkan di meja, sehingga rambutnya yang tidak lebih dari leher itu tergerai bebas. Oti bertanya ada apa melihat Raka yang bengong, Raka hanya menjawab tidak ada apa-apa.

Raka memandangi Oti yang sedang minum. Cewek itu sungguh diluar bayangan Raka. Ketika ayahnya mengatakan Oti akan tinggal disini, yang terbayang di benak Raka adalah kerepotan mengawasi cewek ABG yang feminim dan sedikit manja seperti Ai. Tapi Oti berbeda, gayanya saja seperti laki-laki. Ayahnya memang mengatakn Oti sedikit nakal tapi tidak dijelaskan kenakalan seperti apa. Raka hanya berharap cuma kenakalan remaja biasa, bukan menjurus pada hal-hal yang negatif.

Raka menyuruh Oti untuk membawa tasnya ke kamarnya yang berada di bawah. Setengah jam berlalu Raka langsung pergi mandi, dia ada janji ke rumah temannya. Sejenak hatinya sempat bimbang. Apakah dia mesti ninggalin Oti yang baru datang sendirian di rumah? Bagaimana kalau ada apa-apa? kalau Ai datang apakah Oti bisa dipercaya? Begitu banyak pertanyaan di dalam benaknya.

Raka memanggil Oti namun tidak ada jawaban, raka mengulanginya lagi tapi tetap tidak ada jawaban dengan penasaran Raka menuju kamar Oti. Pintu kamar setengah terbuka Raka memanggil Oti lirih di depan pintu, Raka tidak langsung masuk takut kalau Oti sedang berganti pakaian. Tetap tidak ada jawaban dari Oti akhirnya Raka memberanikan diri untuk masuk ke kamarnya.

Raka melihat Oti yang sedang diam terlentang di tempat tidur yang belum dipasangi seprai. Raka mendekat, ternyata Oti ketiduran dengan pakaian yang masih sama ketika dia datang hanya jaket dan sepatunya saja yang dilepas. Raka melihat wajah Oti. Butiran keringat mengalir diwajahnya. Mungkin dia kecapekan. Isi ranselnya saja belum dikeluarkan, melihat hal itu, Raka tidak tega ninggalin Oti sendirian di rumah. Dengan segera Raka menghubungi temannya bahwa ia tidak bisa datang.

Harapan Raka agar Oti tidak akan merepotkan dia nantinya tidak terwujud. Baru saja Oti pindah, malamnya ayah Raka menelepon menanyakan kabar Oti dan minta Raka biar membantu anak itu saat pertama kali masuk SMA barunya. 

Tapi pas menanyakan kamar Oti dan Raka menjawab di bawah, ayah Raka langsung tidak setuju. Dengan setengah memaksa ayahnya minta Raka untuk tukaran kamar dengan Oti. Alasannya tidak baik bila cewek tidur di kamar bawah sendirian. Mulanya Raka keberatan, selain kamar yang di bawah kecil, dia juga malas memindahkan barang-barangnya dan menata ulang kamar barunya. Karena ayahnya terus mendesak, terpaksa Raka setuju. Memang dari dulu Raka tidak bisa membantah apa yang dikatakan ayahnya.

Begitulah, pagi harinya Raka langsung kerja bakti memindahkan barang-barangnya ke kamar bawah. Benar-benar melelahkan, apalagi barang-barangnya tergolong banyak. Ai sampai tertawa melihat kakaknya bolak-balik naik turun tangga sambil membawa barang-barangnya. 

Yang membuat Raka kesal, Oti sama sekali tidak membantu. Dia malah pergi keluar bersama Ai yang mau pergi ke rumah temannya. Tidak disangka Ai langsung akrab dengan kakak tirinya. Semalam mereka ngobrol lama sekali di kamar Ai sampai cekikikan.  Mungkin karena selama ini Ai tidak punya kakak cewek, jadi dia langsung akrab dengan Oti. 

Sampai jam sembilan Oti belum juga kembali, terpaksa Raka kerja sendirian. Raka juga sempat khawatir jika Oti nyasar. Raka juga tidak menghubunginya karena dia tahu Oti tidak membawa HP. Disaat Raka sedang memikirkan hal itu pintu depan terbuka. Oti masuk sambil menenteng kantong plastik hitam. Di kupingnya tergantung sepasang earphone yang terhubung dengan ipod yang digantung di lengan kirinya.

Oti bertanya apakah barang-barangnya sudah di bawa ke atas atau belum sambil meletakkan kantong plastik yang dibawanya di meja makan, dengan kesal Raka menjawab sudah. Oti tersenyum melihat raut muka Raka yang kusut dan mengucapkan terima kasih. 

Oti berhenti menaikki tangga dan bilang bahwa ia membeli bubur ayam di depan tapi dia tidak tahu apakah Raka suka atau tidak maka dari itu Oti hanya membeli satu untuknya, dia memberitahu itu agar bubur ayam yang dibelinya tidak hilang, sebab Oti lapar. Setelah itu Oti naik ke atas, Raka kesal dengan Oti karena mengira dia membeli bubur ayam itu untuk dirinya karena dia juga sangat lapar, apalagi dia juga habis kerja rodi.

Tidak lama kemudian terdengar Oti berteriak dari kamar atas karena melihat kamarnya berantakan sekali. Kali ini hilang kesabaran Raka, ia pun berteriak tidak kalah kerasnya dengan Oti dan mengatakan untuk membereskannya sendiri.

Oti tidak menjawab lagi hingga beberapa saat suasana menjadi hening. Dengan kesal Raka menuju kamar barunya di dekat ruang tengah, yang juga masih berantakan. Kerja bakti babak kedua dimulai lagi!

Penderitaan Raka belum berakhir. Saat sekolah udah dimulai, dia harus mengantar Oti ke sekolah, karena didesak oleh ayahnya. Oti dan Raka tidak satu sekolah. Oti bersekolah di SMA Yudhawastu, Oti sendiri sebenarnya tidak keberatan pergi sendiri ke sekolahnya tanpa perlu diantar, tapi dia juga didesak ayahnya untuk diantar Raka. Begitulah, pagi-pagi Raka sudah ngebut dengan motornya, berboncengan dengan Oti.

Ketika memasuki kompleks SMA Yudhawastu, Raka memperlambat laju motornya, beberapa meter dari pintu gerbang Raka berhenti. Suasana disekitar masih sepi karena baru jam enam. Oti memang harus datang awal karena sebagai murid baru dia harus ikut MOS.

Oti bertanya pada Raka membuka kebekuan di antara mereka, Ai mengatakan bahwa Raka jadi pantia MOS di sekolahnya dan bertanya mengapa Raka tidak pergi pagi-pagi. Dia melihat beberapa siswa panitia MOS berjaga di depan pagar, itu bisa dilihat dari pita hitam yang melingkar dilengan kanan seragam SMA mereka. 

Raka menjawab sudah tidak lagi, sekarang dia menjadi PP atau Pengawas Panitia jika ada yang tidak sesuai sama aturan. Oti mengangguk mengerti dan bertanya lagi apakah sekolahnya Raka jauh dari sekolahnya atau tidak. Raka menjelaskan di perempatan Achmad Yani, belok ke kiri dan lumayan jauh. Ketika Raka menanyakan kenapa Oti hanya menjawab dia cuma ingin tahu.

Setelah itu Oti hendak masuk area sekolah namun Oti dicegat dua panitia, seorang di antaranya cewek. Panitia itu bertanya apakah Oti siswa baru dengan suara setengah membentak dan wajah yang sengaja digalak-galakin. Mungkin biar kelihatan berwibawa, sambil memandang ke seluruh tubuh Oti yang masih memakai seragam SMP.

Raka iseng memperhatikan panitia cewek itu. Wajahnya lumayan juga. setelah ngebentak Oti, panitia cewek itu bahkan sempat melirik ke arah Raka dan buru-buru memalingkan wajah saat tahu Raka memandang dirinya.

Oti mengatakan bahwa ia siswa baru, karena jaraknya cukup jauh, Raka tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Oti dan kakak kelasnya, apalagi keadaan mulai ramai dengan anak-anak baru lain yang sudah mulai datang. Tapi kemudian Raka melihat salah seorang panitia cewek itu mencekal tangan Oti dan membawanya masuk ke sekolah. Raka sempat bertanya-tanya ada apa, tapi Raka menemukan jawabannya saat melihat anak-anak baru yang lain. 

Selain memakai seragam SMP asal masing-masing, mereka juga memakai aksesoris yang rada-rada aneh. Yang cewek rambutnya dikepang dua dan diikat pita merah dan hijau, sedang yang cowok memakai kaus kaki sepak bola setinggi lutut dengan warna merah di kaki kanan dak hijau di kaki kiri. Mereka juga membawa tas sekolah yang dibuat dari karung beras dan tali rafia sebagai gantungannya, yang menurut Raka pasti merupakan tugas dari panitia.

Pantas jika panitia membentak Oti, karena Oti tidak memakai apa-apa selain seragam SMP-nya. Tas sekolahnya juga tas ransel biasa. Pokoknya seperti mau berangkat sekolah biasa saja. Raka tidak tahu apakah Oti mengetahui hal ini atau pura-pura tidak tahu, lagian menurut Raka, Oti terlalu cuek pas pendaftaran ulang, padahal biasanya di situ murid sudah dikasih tau harus ngapain dan bawa apa pas masuk di hari pertama. Raka hanya tersenyum membayangkan hukuman apa yang akan diterima adik tirinya itu.

Oti memang benar-benar bandel. Setelah hari pertama MOS tidak memakai aksesoris dan semua ketentuan yang disyaratkan untuk anak baru, hari-hari berikutnya dia sering terlambat masuk. Alasannya sederhana, dia nonton TV sampai larut malam. 

Padahal peserta MOS diwajibkan hadir satu jam lebih awal untuk mengikuti apel dan pemeriksaan tugas di lapangan. Kontan aja sesampainya di sekolah, dia menjadi sasaran panitia yang setia menunggu di gerbang sekolah. Tapi Oti cuek saja. Saking cueknya, beberapa kakak kelasnya yang cewek gemas melihat kelakuan Oti, bahkan ada yang berniat menculiknya dan memermaknya habis-habisan. Untung saja hal itu dicegah Bayu dari kelas 2 IPS 3, sang ketua MOS.

Bayu mengingatkan anggota panitia lain bahwa saat ini MOS diawasi dengan sangat ketat sehingga tidak boleh melakukan sesuatu di luar acara yang dapat merusak pelaksanaan MOS. Bayu tidak cuma mengingatkan anak buahnya. Dia juga aktif mengontrol setiap anggota panitia lainnya. 

Oti sering ketemu Bayu, karena ruang eksekusi bagi peserta yang dianggap bersalah berdekatan dengan posko panitia, selain itu Bayu juga sering ada di ruang eksekusi. Karena sering ketemu lama-lama Oti jadi suka melihat wajah Bayu yang emang agak imut. Bahkan saking sukanya, kadang-kadang Oti sengaja membuat kesalahan agar dibawa ke ruang eksekusi, dengna harapan dapat bertemu dengna Bayu. Karena itu dia kecewa berat kalau ternyata Bayu lagi tidak ada di posko.

Bayu salah satu anggota panitia yang jadi favorit, baik dikalangan peserta MOS cewek atau sesama panitia, bukan hanya Oti. Maka tidak heran jika hari ke hari, ruang eksekusi makin ramai oleh anak-anak baru yang melakukan pelanggaran dan hampir seluruhnya yang melakukan kesalahan pelanggaran cewek, termasuk Oti.

Ticka salah seorang teman sekelasnya berkomentar bahwa Oti betah masuk ruang eksekusi karena kakak kelasnya Bayu. Oti tidak langsung menjawab komentar Ticka karena ia sedang memakan pisang goreng sambil duduk di salah satu koridor sekolah agak terpisah dengan teman-temannya yang berkumpul. 

Oti tidak perduli dengan keadaan di sekelilingnya, termasuk empat cewek anggota panitia yang berdiri tidak jauh dari tempatnya dan terus memandang tajam ke arahnya sambil sesekali berbisik, seolah-olah sedang mengawasinya.

Ticka menyikut Oti dan menggerakkan kepala, seolah menunjuk empat panitia itu. Oti melihat ke arah yang ditunjuk Ticka kemudian melanjutkan makan. Oti sudah tahu hal itu dan tetap mencuekinya.

Setelah selesai makan Oti bertanya pada Ticka apakah dia masuk ke ruang eksekusi dan dijawab dengan anggukan Ticka. Ticka menjelaskan, dia penasaran dengan anak-anak cewek yang sengaja membuat kesalahan seperti Oti. Lalu dia mengerti, itu karena kak Bayu yang jarang ada di lapangan, ternyata lebih sering berada di ruang eksekusi. 

Ticka pun bertanya pada Oti apakah Oti suka dengan kak Bayu, Oti mengelak, dia mengatakan bahwa dia hanya senang melihatnya, orangnya tenang, kalem tapi berwibawa dan juga senang melihat wajahnya yang imut. Oti juga bilang bahwa dia tidak mau memikirkan cowok, dia belum mau pacaran, alasannya sederhana yaitu malas.

Kini pandangan Oti tertuju pada empat panitia cewek yang sedang mengawasinya sedari tadi. Saat itu di depan mereka lewat seorang anak baru berambut panjang dikepang yang membawa baki berisikan dua gelas kopi panas. Oti mengenalnya sebagai Laras, salah seorang teman sekelasnya yang juga jadi target para cowok kakak kelasnya. Oti tidak begitu mengenal Laras, karena selain beda kelompok, Laras juga sangat pendiam dan agak pemalu. Keempat panitia itu berpandangan melihat Laras yang lewat di depan mereka.

Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari arah keempat cewek panitia itu. Bersamaan dengan itu Laras terjatuh di antara mereka. Baki berisi gelas kopi panas yang rencananya akan diberikan untuk para guru di ruang guru tergeletak di lantai, sedang gelasnya pecah berantakan. Tumpahan kopi menyebar kemana-mana, termasuk ke baju putih yang dikenakan Laras dan keempat panitia cewek tersebut.

Salah satu dari empat panitia itu berseru dan menunjuk baju temannya yang terkena tumpahan kopi. Orang yang ditunjuk, seseorang berambut panjang dan agak kemerah-merahan sedang melihat pakaiannya. Dibanding tiga temannya, dia yang paling banyak terkena tumpahan kopi karena saat itu posisinya berhadapan dengan Laras, dia merasa jijik akan hal itu. Kemudian memandang Laras yang setengah berjongkok menahan sakit karena tangannya terkena pecahan gelas.

Cewek berambut panjang itu menarik Laras hingga berdiri, kemudian menamparnya dengan keras hingga tubuh Laras terhuyung. Laras terbata-bata meminta maaf sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh, tapi rupanya cewek berambut panjang itu tidak puas dengan jawaban Laras. 

Dia kembali menarik kerah baju Laras dan tidak bisa menerima permintaan maaf dari Laras dan membentak dengan suara keras, yang membuat perhatian seluruh orang yang mendengarnya tertuju pada mereka. Anggota pantia lain berdatangan dan bertanya apa yang telah terjadi. Salah satu dari empat panitia yang berambut pendek itu menjelaskan bahwa Laras numpahin kopi dan tumpahan itu mengenai mereka juga menunjuk baju Revi yang banyak terkena tumpahan kopi.

Cewek berambut panjang yang bernama Revi terus memaki Laras yang hanya bisa diam tertunduk. Anggota lain berusaha menenangkan Revi, sementara Laras mulai tidak bisa menahan isak tangisnya. Salah satu anggota panitia lain yang bernama Bowo mencoba menetralisir keadaan. 

Revi memegang tangan Laras dan menyuruh salah seorang temannya untuk membawanya ke ruang eksekusi, panitia lain tidak ada yang dapat mencegah hal itu. Tapi tidak lama kemudian terdengar suara teriakan diantara kerumunan orang yang mengatakan bahwa Laras tidaklah bersalah. Oti menyeruak diantara kerumunan dan berdiri di samping Laras memandang tajam ke arah Revi.

Oti mengulangi perkataannya bahwa Laras tidak bersalah. Revi membentak kepadanya untuk tidak ikut campur. Dengan tenang Oti mengatakan bahwa Laras jatuh  karena ada yang ngejegal kakinya, meski sebetulnya kepala Oti sudah panas melihat cara Revi memperlakukan Laras. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Laras jika cewek itu sampai masuk ruang eksekusi bersama empat panitia cewek yang tadi sengaja menjegalnya.

Revi bertanya maksud dari Oti apakah yang dimaksudnya itu mereka sengaja menjegal kakinya Laras, Oti hanya mengatakan bahwa dia tidak bilang seperti itu tapi mereka sendiri yang mengatakannya, Revi terjebak dengan perkataannya sendiri tapi Revi keburu mengelak dan mengatakan bahwa di sini dialah yang terkena tumpahan kopinya, namun Oti hanya mengatakan bahwa ia tidak tahu tapi yang pasti dia melihat salah seorang teman Revi yaitu Rina, cewek yang berambut pendek melintangkan kakinya tepat saat Laras lewat. Kontan Rina melotot dan membentak mengelak perkataan Oti. Selesai berkata tangan kanannya melayang hendak menampar Oti. Tapi Oti mendahului menangkap tangan Rina.

Rini membentaknya bahwa Oti berani melawan panitia. Oti menjawab tidak kalah membentak bahwa dia tidak takut melawan mereka, juga dia tidak melawan panitia tapi melawan segelintir orang yang mengatasnamakan paniti MOS untuk kepentingan pribadi! Oti tidak menahan dirinya lagi. Suara Oti yang keras membuat anak baru lainnya yang tadinya tidak berani mendekat jadi maju mendekati tempat kejadian.

Rina berusaha melepaskan tanganya dari cengkeraman Oti. Dia mempergunakan tangan kirinya untuk membantu tangan kanannya, tapi sia-sia. Bahkan Oti memakai jarinya untuk menekan urat nadi Rina, sehingga Rina menjerit kesakitan. 

Bowo kembali menengahi dan menyuruh Oti untuk melepas tangan Rina, Oti menurutinya dan melepaskan cengkeraman tangan kirinya. Rina mundur sambil memegangi tangan kanannya yang masih kesakitan. Tampak bekas merah di sekitar pangkal urat nadinya. Revi hendak maju, tapi ditahan Bowo yang berbadan besar dan menghentikannya untuk tidak membuat keributan lagi. 

Bowo memandang ke arah ruang guru. Beberapa orang guru yang mendengar seperti ada suara ribut-ribut mulai keluar dan memandang ke arah tempat itu.

Salah satu dari empat panitia cewek itu mengatakan bahwa Oti berani melawan panitia dan dia harus dikeluarkan dari acara MOS. Bowo memandang Oti dan Laras secara bergantian lalu bertanya apakah benar Oti melihat kejadian yang sesungguhnya yang lalu dijawab dengan anggukan Oti. 

Kemudian bertanya pada Laras apakah Laras merasa ada yang menjegal kakinya tapi Laras tidak menjawab, dia hanya menunduk sambil menahan isak tangisnya. Rina mengatakan bahwa Oti berbohong. Kali ini hilang kesabaran Bowo dan menatap ke arah Rina sambil membentak agak keras untuk menghormatinya sebagai seksi keamanan. Rina dan teman-temannya langsung terdiam.

Akhirnya Bowo mengambil keputusan, Bowo melihat jam tangannya, waktu istirahat hampir habis dan mengatakan untuk menyelesaikan masalah ini di posko juga menyuruh anak-anak lain untuk kembali ke kelasnya masing-masing begitu juga dengan panitia lain untuk kembali bertugas. Bowo juga meminta beberapa sukarelawan peserta untuk membersihkan pecahan kaca dan tumpahan kopi lalu menyuruh Oti dan Laras untuk ikut ke posko.

Oti merangkul Laras yang masih tertunduk. Dia melihat baju Laras yang terkena tumpahan kopi dan lutut serta telapak tangannya yang berdarah. Oti meminta waktu pada Bowo untuk membersihkan baju Laras dan mengobati lukanya. Bowo memberikan waktu lima belas menit kepada mereka dan menyuruh salah anggota P3K bernama Dewi untuk mengawasi mereka.

Di sisi lain Raka duduk di antara teman-temannya di depan kelas. Keringat membasahi sebagian wajah dan badannya karena habis main futsal di jam istirahat. Salah satu teman sekelasnya Nensie menawarkan tisu padanya dan Raka mengucapkan terima kasih sambil menggodanya, orang yang digoda hanya mencibir pada Raka. 

Raka tertawa melihat Nensie kemudian pandangannya tertuju pada kegiatan MOS yang sedang berlangsung. Terlihat anak-anak baru sedang latihan baris-berbaris. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang cewek berambut panjang dan mengenakan topi hitam yang bertindak sebagai panitia.

Salah satu temannya Dodi yang duduk di sebelah Raka menyebut nama Ajeng menunjuk ke arah gadis yang bertopi hitam itu. Seketika itu juga riuh rendahlah suara dari anak XII IPA1 mereka bersuit-suit atau berteriak memanggil nama Ajeng, cewek kelas XI IPS 1 yang merupakan salah satu cewek favorit di SMA 14. 

Walau begitu kegiatan MOS tetap berlangsung, tidak terpengaruh terhadap kegaduhan yang terjadi di depan kelas XII IPA 1. Raka sempat melihat wajah Ajeng yang agak tertutupi topi memerah dan dia menjadi salah tingkah. Setiap gerakannya selalu dikomentarin teman-teman cowok Raka. Beberapa panitia cowok yang juga anak kelas dua cuma diam saja, tidak bereaksi terhadap aksi yang jelas-jelas mengganggu kegiatan MOS. 

Selain kalah jumlah, mereka pun segan berurusan dengan anak-anak kelas tiga. Salah satu teman Raka, Agus yang menjabat sebagai Ketua Murid mengingatkan teman-temanya untuk tidak ribut karena takut bila kedengaran oleh guru. Mendengar ucapan Agus suara riuh mereda.

Teman cewek Raka, Astuti atau biasa di panggil Tute pun mengomentari seperti tidak pernah melihat cewek saja lalu Satya pun membalas perkataannya bahwa mereka pernah melihat cewek tapi jarang sekali melihat yang kinclong dengan segera sebuah jitakan mendarat di kepalanya. 

Eva mengatakan bahwa mereka semua norak, cewek seperti itu diributin, Eva juga mengatakan apa hebatnya dia? Jalannya saja seperti bebek. Satya kembali celetuk mengatakan bahwa para cewek memang seharusnya berjalan seperti itu juga mengatakan bahwa mereka sebagai cewek telah menyalahi kodrat sambil tertawa. 

Tute merasa kesal pada Satya dan bersiap-siap mengepalkan tangannya untuk menjitak kepalanya lagi tapi Satya meminta ampun padanya. Melihat Tute yang tomboi, Raka jadi teringat pada Oti dan memikirkan sedang apa yang dilakukan anak itu.

Setelah seminggu acara MOS, Oti kembali masuk sekolah seperti biasa meski ada rasa yang mengganjal. Oti merasa Revi dan gengnya masih membencinya meskipun begitu, hubungan Oti dan kakak kelasnya yang dulunya juga sebagai panitia cukup baik, bahkan Oti lebih dikenal dari pada teman-temannya yang lain karena Oti juga mudah bergaul terlebih lagi namanya melambung saat MOS karena keberaniannya melawan Revi cs, yang di kalangan SMA Yudhawastu dikenal dengan nama kelompok Fiesta. 

Oti sendiri juga baru tahu belakangan bahwa anggota Fiesta ditakuti anak-anak se-SMA Yudhawastu, terutama ceweknya. Siapa pun yang berurusan dengan mereka pasti akan repot. Bahkan anak-anak cowok pun segan. Konon kabarnya Fiesta punya banyak kenalan anak cowok sekolah lain yang masuk kategori “trouble maker”. 

Mungkin mereka mengenal anak-anak itu di diskotek, karena keempat cewek anggota Fiesta senang clubbing. Pernah ada seorang anak kelas tiga yang bercanda kelewat batas hingga membuat wida salah satu anggota Fiesta mukanya seperti kepiting rebus karena malu dan esoknya dia di keroyok anak sekolah lain pas pulang sekolah hingga babak belur. Walaupun tidak ada bukti mereka yakin itu ulah Fiesta.

Walau Oti sudah banyak mendengar kabar mengenai Fiesta dan banyak yang menasehatinya agar berhati-hati karena dia pernah mempermalukan mereka, tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda Fiesta akan membuat gara-gara padanya. Oti sendiri tidak ambil pusing, dia hanya bersikap sewajarnya di sekolah.

Ticka mengatakan sepertinya mereka takut pada Oti apalagi Oti jago karate saat berada di kantin, tapi Oti hanya menjawab acuh tak acuh sambil melahap jajanannya, mi bakso campur batagor. Ticka mengingatkan agar Oti berhati-hati karena tatapan Revi dan yang lainnya menatap benci pada Oti. Tapi Oti hanya cuek sehingga membuat kesal Ticka karena tidak ditanggapi dan mulai membuat kegaduhan sendiri antara Oti dan Ticka. 

Laras hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua temannya. Sejak kejadian di MOS dulu, Laras jadi akran dengan Oti dan Ticka. Bahkan mereka bertiga akhirnya menjadi sahabat karib. Laras yang dulunya pemalu, pendiam dan sedikit tertutup kini menjadi sedikit terbuka, karena pergaulannya dengan Oti. 

Hanya pada Oti dan Ticka, Laras dapat menceritakan isi hati dan pikirannya, apalagi jika ada masalah, walau kadang-kadang masukan dari Oti dan Ticka bukan membuat masalahnya beres, malah tambah kacau. Oti pun senang bershabat dengan Laras, karena orangnya polos dan selalu berbicara apa adanya dan satu lagi, Laras sering mentraktir Oti dan Ticka. 

Bagi Oti itu berkah, karena dengan begitu dia dapat menghemat uang bulanannya. Kabarnya Laras anak orang kaya. Ayahnya pengusaha besar di Jakarta, sedangkan di sini dia tinggal bersama neneknya. 

Oti sendiri tidak perduli Laras anak orang kaya atau tidak dan juga tidak perduli dia anak siapa, Oti senang berteman dengan Laras karena orangnya enak di ajak temenan dan penampilan Laras pun sederhana sama seperti Oti dan Ticka, bahkan Laras pun naik angkutan umum seperti angkot atau bus untuk pulang-pergi sekolah. Itu salah satu faktor Oti senang berteman dengan Laras.

Setelah mereka selesai makan Laras pergi membayar makanan mereka bertiga. Disaat menunggu Laras Ticka sempat bertanya mengapa Raka tidak mengantar Oti lagi. Oti sedikit mendelik dan menuduh Ticka suka sama Raka tapi Ticka keburu mengelak. 

Oti menjelaskan bahwa Raka juga turun pagi kalau Raka mengantarnya dulu dia bisa terlambat. Ticka pun kembali bertanya apa Raka sudah punya cewek atau belum, kali ini Oti kembali menggodanya dan Ticka agak panik menghadapi tuduhan Oti, wajahnya pun mulai memerah. 

Oti mengatakan bahwa Ai pernah bilang dulu Raka pernah punya pacar dari kelas satu sampai kelas dua tapi setelah itu Ai tidak tahu lagi status hubungan mereka mungkin putus karena mereka juga sudah tidak saling kontak lagi. Ticka hanya manggut-manggut mengerti mendengar penjelasan Oti.

Malamnya Raka selesai bekerja di salah satu radio swasta Qly FM tepat pukul dua belas malam. setengah jam kemudian Raka sampai di rumahnya. Raka mengira orang rumah sudah pada tidur karena melihat keadaan rumahnya yang gelap. Selama ini setiap pulang malam, Raka selalu was-was meninggalkan adiknya sendirian di rumah, apalagi itu terjadi hampir setiap hari. 

Karena itu dia selalu menyempatkan diri untuk menelepon adiknya untuk memastikan semua baik-baik saja. Semenjak kedatangan Oti, rasa was-wasnya sedikit berkurang. Paling tidak sekarang ada yang menemani Ai di malam hari. 

Meskipun ada yang sedikit mengganjal sebab ayahnya pernah bilang Oti sering keluyuran hingga larut malam dan itulah yang dikhawatirkan Raka. Tapi melihat teman-teman barunya Oti sepertinya alim dan tidak suka macam-macam, Raka berpikir mungkin aja adik tirinya itu sudah berubah.

Raka membuka pintu depan dengan kunci yang dibawanya. Lampu ruang memang sudah dimatikan tapi masih ada cahaya seperti cahaya TV dan benar saja, Oti masih asyik menonton TV. Dia sama sekali tidak terusik dengan kehadiran Raka.

Raka bertanya padanya jika dia belum tidur mengapa dia tidak membukakan pintu sehingga Raka tidak perlu menggunakan kunci cadangan Raka juga menanyakan apakah Oti mendengar suara motornya atau tidak. Oti hanya bilang dia mengira itu tukang ojek yang membuat Raka kesal. Dia tidak mau berdebat dengan Oti karena sudah malam dan segera menuju kamarnya. Tapi tidak lama kemudian dia kembali menghampiri Oti.

Oti meminjam CD player-nya Raka dan disuruh kembaliin sekarang tapi Oti menjawab bahwa ia malas mengangkatnya sekarang karena berat dan kalau Raka mau memakainya Oti menyuruhnya untuk mengambilnya sendiri, tapi kalau Raka mau mengambilnya sekarang Oti bilang untuk nanti dulu sebab dia belum selesai mendengar CD baru yang ia beli.

Mendengar perkataan Oti ingin rasanya Raka mencekik cewek yang ada di hadapannya, tapi dia masih bisa menahan diri dan kembali ke kamarnya. Oti menghentikan Raka dan meminta Raka untuk menemaninya membeli CD player dan juga TV untuk dikamarnya. Namun Raka menjawab bahwa ia tidak memiliki waktu untuk menemaninya belanja, kemudian melanjutkan langkahnya, meninggalkan Oti yang hanya bisa melongo mendengar jawaban kakak tirinya itu.

Keesokan harinya ketika Oti berada di angkot yang membawanya ke sekolah, dia melihat sebuah mobil kijang perak yang berhenti di pinggir jalan dengan kap mesin terbuka. Dia merasa mengenal pemilik mobil itu. Benar saja pemilik mobil itu adalah Bayu kakak kelasnya. 

Terlihat Bayu mengalami kesulitan. Oti segera meminta angkit berhenti dan turun tidak jauh dari mobil Bayu. Cewek itu segera menghampirinya, Bayu sedikit kaget karena tiba-tiba Oti sudah berada di sampingnya dan menanyakan masalah yang dihadapinya, barang kali dia bisa membantu.

Bayu menjelaskan bahwa mobilnya tiba-tiba mogok dan tidak bisa distarter lagi. Oti menjulurkan tangannya ke mesin mobil membat Bayu heran dan bertanya apa yang dia lakukan. Oti hanya bilang bahwa ia mau lihat sebentar barang kali Oti bisa mencoba memperbaikinya. Oti mengutak-atik mesin mobil Bayu dengan peralatan yang ada, diikuti tatapan heran kakak kelasnya itu.

Sekitar dua puluh menit Oti mengutak-atik mesin mobil Bayu. Bayu juga tidak tahu apa yang dilakukan cewek itu. Tapi Oti berhasil membuat mobil Bayu dapat menyala lagi. Setelah itu mereka langsung meluncur mulus menuju sekolah. 

Oti melihat jamnya dan sepertinya mereka terlambat. Bayu meminta maaf karena sudah merepotkannya dan membuatnya terlambat. Oti mengatakan tidak apa-apa sambil tersenyum.

Raka sedang duduk di sudut lobi radio Qly dan melihat Ajeng memasuki lobi dan memanggilnya. Mendengar namanya dipanggil Ajeng melihat ke arah asal suara yang memanggilnya, dia mengenal Raka sebagai kakak kelasnya tapi tidak begitu dekat. 

Raka menghampirinya dan menanyakan ada keperluan apa dia ke sini. Suara Raka begitu lembut berbeda saat dia bersama teman-temannya. Ajeng merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya, tapi entah dimana?

Ajeng bertanya padanya apakah disini tempat dijualnya tiket konser ‘Qlyvaganza Parties’, Raka menjawab ia lalu bertanya apakah Ajeng mau menonton acara itu, tapi Ajeng mengatakan bahwa adiknya yang ingin menonton. 

Wajahnya yang putih basah karena keringat dan Raka menebak Ajeng habis dari sekolah melihat dia masih memakai seragam sekolah, dan benar saja Ajeng habis latihan paskibra dan langsung ke sini. Pantas ia terlihat lelah.

Raka bertanya mengapa bukan adiknya saja yang membelinya sendiri. Ajeng menjelaskan bahwa adiknya tidak bisa maka dari itu dia menitipnya ke Ajeng. Raka mengajak Ajeng untuk duduk di lobi. Beberapa karyawan dan penyiar Qly FM yang kebetulan lewat tersenyum penuh arti pada Raka. Salah satu dari mereka mengatakan pada Raka agar bersiap-siap untuk siaran. 

Ajeng bertanya apakah Raka seorang penyiar sambil memandang kagum. Raka menjawab iya sebagai freelance, buat nambah-nambahin uang jajan. Ajeng mengatakan bahwa Raka merupakan penyiar favorit adiknya, hampir setiap hari adiknya mendengarkan siaran Raka dan kalau Ajeng ada di rumah, kadang-kadang Ajeng juga ikut mendengarkan, Ajeng juga bertanya benar nickname-nya Raka adalah Squall, tapi Raka tidak menjawab pertanyaan Ajeng. Setiap penyiar memiliki nama samarannya sendiri biar lebih akrab dengan pendengarnya. Ajeng terus mendesaknya hingga mau tidak mau Raka mengangguk dan mengakui nama samarannya adalah Squall.

Raka bertanya padanya apakah adiknya anggota KQ, bukannya menjawab Ajeng malah bertanya apa itu KQ. Raka menjelaskan itu semacam fans club untuk para pendengar Qly dan biasanya setiap minggu mereka berkumpul di studio atau ngadain kegiatan. Ajeng hanya menjawab bahwa adiknya tidak ikut dan ketika ditanya alasannya apa, kali ini giliran Ajeng tidak menjawab pertanyaan Raka.

Oti lagi main futsal di lapangan basket sekolah bareng cowok-cowok kelasnya ketika Ticka memberi tanda dari pinggir lapangan dan bertanya ada apa pada Ticka di sampingnya ada Dea, teman sekelas mereka, mereka terlihat panik dan menjelaskan bahwa teman mereka Rika lagi dikerjain sama Fiesta. Mendengar hal itu hati Oti jadi panas dan ingin memberi pelajaran sama cewek-cewek borju seperti mereka. Tanpa pikir panjang Oti langsung lari ke arah kantin di belakang sekolah.

Setelah kejadian di kantin. Oti tidak ada hentinya menepuk keningnya. Laras dan Ticka yang duduk dihadapan Oti hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan teman mereka. Saat ini mereka sedang berada di food court Bandung Indah Plaza setelah pulang sekolah.

Oti terus memikirkan keputusan yang ia putuskan saat berada di kantin dan terlihat menyesalinya. Bagaimana tidak saat dia menghampiri anggota Fiesta yang sedang memojokkan Rika. Dia sempat perang kata-kata dengan Revi cs. Bahkan Oti sempat dikeroyok oleh mereka tapi mereka bukan Tandingan Oti yang gitu-gitu pemegang sabuk hitam karate. Oti memberi mereka pelajaran dan beberapa anak cowok yang berada di kantin segera melerai perkelahian.

Oti mengatai mereka yang seenaknya pada adik kelas. Revi pun membalas perkataan Oti bahwa Oti hanya pandai berkelahi dan merasa kasihan padanya sebagai seorang cewek Oti tidak bisa berdandan. Tentu saja Oti merasa marah akan hal itu. 

Lalu Revi minta bukti bahwa Oti bisa seperti cewek lainnya dan menantang Oti bertanding di bidang yang Revi bisa. Tantangan itu ialah Pemilihan Putri SMA se-Indonesia. Mendengar hal itu raut wajah Oti langsung berubah dan memandang ke arah Revi, menduga bahwa dia sudah merencanakan semua ini. Revi mengatakan dengan angkuhnya jika Oti tidak sanggup dia bisa milih jenis pertandingan lain. Nyali Oti yang menciut tiba-tiba bangkit lagi.

Revi bertanya kembali apakah Oti berani atau tidak menerima tantangan itu. Semua yang berada di sana terdiam memandang ke arah Oti menunngu jawaban dari mulutnya. Oti kembali memandang Revi dan dengan yakin menerima tantangan itu yang membuat raut wajah Revi sedikit berubah.

Lalu Oti bertanya apa yang akan didapat pemenangnya. Revi mengatakan yang  kalah harus mengikuti apa yang diperintahkan si pemenang tanpa kecuali apa pun itu. Oti pun setuju dengan mantapnya.

Mengingat kejadian itu Oti mendesah pelan dan menyesal seharusnya dia tidak terbawa emosi sehingga ia tidak sadar bahwa Revi mau menjebak dia. Ticka menyemangati Oti untuk tidak patah semangat dan mengatakan bahwa ia dan Laras akan membantu Oti untuk pemilihan putri SMA. Oti berterima kasih pada teman-temannya dan mulai mempersiapkan segalanya mulai dari sekarang.

Di sisi lain, pada acara “Qlyvaganza Parties” berlangsung semarak. Acara yang digelar radio Qly di Lapangan Saparua Bandung itu dipadati ribuan ABG dan generasi muda yang selama ini merupakan segmen utama pendengar Qly yang merupakan salah satu radio swasta terbesar di Bandung.

Raka yang terpaksa duduk mendekam di balik meja informasi karena dimintai tolong. Iseng dia membaca berbagai macam brosur yang berada di meja. Lalu tiba-tiba Raka menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Di depan meja informasi Ajeng berdiri di depannya. Rambutnya yang panjang memakai bando berwarna merah muda, sama dengan warna bajunya, hingga dia kelihatan cantik banget. 

Raka sedikit kaget ternyata Ajeng datang juga kesini. Ajeng beranjak dari meja informasi, beberapa saat kemudian Ajeng datang sambil mendorong kursi roda yang diduduki seorang cewek berusia sekitar tiga belas-empat belas tahun. Wajahnya mirip Ajeng, tapi rambutnya di potong lebih pendek.

Ajeng pun memperkenalkan Raka kepada adiknya Ayu sebagai penyiar radio yang dikenal dengan nama Squall. Raka sejenak menatap Ajeng. Tampak bibir Ajeng yang mungil bergerak mengucapkan kata “Sorry” tanpa suara. Ayu memandang Raka dan bertanya benar dia adalah Squall lalu dijawab dengan anggukan Raka. Wajah Ayu kelihatan tersipu menahan malu.

Ajeng menjelaskan saat Ayu berusia delapan tahun, Ayu jatuh dari pohon kemudian terkena demam hebat yang membuat kedua kakinya tidak dapat digerakkan lagi. Wajah Ajeng menampakkan kesedihan yang mendalam. 

Raka yang duduk di sampingnya hanya dapat menatap wajah cewek itu. Dari ucapan Ajeng, Raka menjadi simpati pada Ajeng. Ajeng juga mengatakan yang membuat Ayu akhir-akhir ini kembali bersemangat dan selalu ceria itu semua karena Raka sambil menatap ke arahnya. Semakin hari kedekatan Raka dengan Ajeng semakin bertambah.

Kali ini Oti dan Ticka diajak Laras kesebuah salon yang Laras kenal dengan pemiliknya yaitu Tante Wijaya yang salonnya termasuk salon terbaik di Bandung.Tante Wijaya sudah diberi tahu oleh Ibunya Laras bahwa temannya meminta bantuannya untuk kontes pemilihan putri SMA. 

Tante Wijaya tidak bisa menanganinya secara langsung karena dia begitu sibuk mengingat dia memiliki beberapa cabang di Bandung, maka dari itu dia meminta salah seorang yang bernama Iwan yang terbaik di seluruh salonnya untuk menanganinya. Awalnya mereka ragu apakah mereka bisa membantu Oti melihat gayanya seperti cowok. Tapi Iwan mengatakan itu mungkin saja bisa. 

Untuk pertama kalinya Oti datang ke salon dan langsung dipermak habis-habisan oleh Iwan dan setelah di rias Oti langsung dipotret di studio foto. Menjelang malam baru cewek itu pulang. Oti merasa wajahnya bertambah berat karena kosmetik yang masih menempel. Ai yang membukakan pintu rumah kaget melihat wajah Oti yang lain dari biasanya dan menyuruh Ai untuk tidak berkomentar apapun. Ai hanya memandang kakak tirinya dengan heran.

Dua hari kemudian, Raka memasuki rumahnya sambil bersiul gembira. Hantinya membuncah. Dengan menerima undangan makan dari Ayu. Dari hari ke hari Raka semakin dekat dengan adiknya Ajeng terlebih terhadap Ajeng kini mereka semakin dekat.

Ai yang sedang menonton TV di ruang tamu heran dengan sikap kakaknya yang baru pulang dan menggodanya karena kencannya pasti sukses yang langsung dijawab Raka untuk tidak ikut campur. Ai hanya terkekeh mendengar jawaban kakaknya itu. Ai juga menyampaikan pesan Oti yang mau memakai printernya untuk mengeprint tugasnya malam ini agar Raka mau mengeprint-nya sebab ia tidak bisa menggunakannya.

Raka bertanya kemana Oti sekarang, Ai hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu juga mengatakan sebelum pergi ada temannya yang menelepon dan suaranya cowok. Ai menduga mereka pergi janjian.

Setelah Raka mengganti pakaian, Raka langsung ke kamar Oti yang dulunya menjadi kamarnya. Tampak tertata rapi. Sebuah stereo set terletak di sudut kamar dan sebelah tempat tidur Oti terdapat meja komputer. 

Oti tidak jadi membeli TV untuk kamar, sebagai gantinya dia membeli stereo set dan seperangkat komputer. Raka menghidupkan komputernya dan terang saja tidak bisa dipakai sebab driver-nya belum ada. Raka mengeluarkan CD driver yang dibawanya dan memasukkan ke CD-ROM komputer Oti. Hanya butuh beberapa menit bagi orang yang tahu seluk beluk komputer untuk memasukkan driver printer-nya ke komputer Oti.

Kini Raka mencoba apakah printer-nya sudah dapat berjalan di komputer Oti. Raka menyelusuri daftar file yang dimiliki Oti yang dapat digunakan untuk mengetes printer. Saat itu matanya melihat sesuatu yang menarik perhatiaannya.

Hari ini bukan hanya Raka yang merasa happy tapi Oti juga. Cewek itu tidak bisa menolak ajakan jalan dari Bayu sebab dia juga suka sama cowok itu. Sejak tadi siang mereka nonton film di bioskop, makan dan jalan-jalan di mal. Karena itu sepulangnya ke rumah, wajah cewek tomboi itu tampak berseri-seri.

Malam ini udara Bandung terasa panas. Raka yang ingin tidur terpaksa mengurungkan niatnya sehingga memutuskan untuk nonton TV di ruang tengah. Siapa tahu dirinya bisa ketiduran di depan TV. Jam menunjukkan pukul 23.00. 

Dengan remote di tangannya, Raka mencari saluran TV yang masih siaran. Tapi nasibnya sial, tidak ada acara yang disukainya. Sebuah suara terdengar di belakang Raka yang menanyakannya yang belum tidur di jam segini, yang ternyata Oti. Cewek itu mengenakan T-shirt bergambar Dora the Exlporer dan celana pendek selutut.

Raka menjawab ia tidak bisa tidur karena panas, lalu bertanya bagaimana dengan dirinya sendiri. Oti hanya menjawab lagi mengerjakan sesuatu. Setelah itu tiba-tiba Oti menyurh Raka untuk tidak memindah salurannya. 

Karena ada Ayumi Hamasaki yang sedang menyanyikan lagu jepang. Raka bertanya apa Oti ngerti bahasanya lalu di jawab untuk menikmati musik tidak harus mengerti bahasanya. Dengan sedikit mendesak Oti duduk di karpet di samping Raka yang terpaksa bergeser ke samping. Oti meminta maaf untuk hal itu. Beberapa saat lamanya mereka terdiam, menonton acara TV.

Oti berterima kasih pada Raka karena komputernya sudah bisa nge-print yang dijawab sama-sama oleh Raka. Raka ingin bicara tentang apa yang dia temukan di komputer Oti, tapi Oti lebih dulu angkat bicara. Oti bertanya bahwa Ai tadi mengatakan Raka lagi happy karena habis kencan, yang ditanya justru menanyakan hal yang sama.

Raka mengaku dan bertanya ada apa lalu dijawab Oti tidak ada apa-apa. Oti jadi salah tingkat sendiri. Cewek itu menggaruk tengkuknya dan meneguk air ptuih di gelas yang dibawanya. Raka menoleh ke arah Oti. 

Heran dengan sikapnya hari ini yang bersikap manis kepadanya. Diam-diam dia memerhatikan adik tirinya itu. Entah kenapa dia merasa ada yang berubah dari wajah Oti. Raka merasa wajah Oti sedikit lebih putih dan terlihat bersinar dari bisanya. 

Rambutnya yang agak panjang diikat karet ke belakang, makin menampakkan kecantikan wajahnya. Raka tidak tahu wajah Oti sudah dipermak habis-habisan utnuk kontes pemilihan putri SMA.

Lama-lama Oti merasa Raka sedang memperhatikan dirinya. Ketika ditanya Raka hanya menggeleng. Raka memberitahu Oti untuk tidak selalu pulang malam dan dia disuruh oleh ayahnya untuk mengawasi Oti. 

Kontan Oti menyergah perkataan Raka dan mengatakan bahwa dia bukan anak kecil lagi, juga mengatakan bahwa papanya selalu menganggapnya seperti anak kecil. Oti juga bilang kalau papanya menyuruh Om dan Tantenya untuk selalu mengawasinya dengan ketat berbeda dengan adiknya Dio yang berusia sepuluh tahun yang merupakan anak dari hasil perkawinan ayahnya Raka dengan ibu Oti, yang selalu Raka panggil dengan sebutan Tante Heni. Tidak seperti Oti, Dio ikut ayah-ibunya ke London dan bersekolah di sana.

Raka mengatakan mungkin itu karena Dio cowok berbeda dengan Oti. Oti mengelak bahwa dia bisa menjaga dirinya sendiri, juga mengatakan jika papanya menkhawatirkan dia akan berbuat macam-macam lalu dia bertanya, apa Raka juga tidak akan melakukan hal yang sama begitu juga dengan Ai. 

Raka menjawab dengan galak dan Oti juga mengatakan hal yang membuat Raka emosi sehingga terjadi keributan, Raka juga mengatakan karena ibunya Oti yang membuat dia dan Ai terpisah dari ayahnya dan ngehancurin keluarga mereka, Oti hampir melayangkan tangan kanannya hendak menampar Raka, kalau saja tidak ingat siapa yang ada di hadapannya.

Karena sudah malam Oti tidak mau ribut dan mengatakan dengan tegas jika kehadirannya sangat tidak diharapkan maka dia akan pergi dari rumah ini. Setelah mengatakan itu Oti pergi meninggalkan Raka dan langsung menuju kamarnya di lantai atas.Kontan membuat Raka mulai cemas.

Keesokan harinya Ai meminta kakaknya untuk mencari Oti dan apapun yang membuat Oti tersinggung Raka harus minta maaf dan membujuknya untuk kembali ke rumah sebelum ayahnya tahu dan memarahinya. 

Benar saja setelah ayahnya tahu Oti pergi, Raka di marahi habis-habisan. Ayahnya meminta Raka untuk membawanya kembali ke rumah. Ayahnya juga mengatakan untuk tidak khawatir jika Oti tidak mau di ajak Raka sebab ayahnya mengenal sifat Oti yang hampir sama seperti Raka yang tidak bisa membantah apa yang dikatakan ayahnya.

Akhirnya Raka terpaksa membolos pelajaran terakhir di sekolahnya dan langsung menuju sekolahnya Oti untuk mengajak pulang ke rumah. Sebenarnya Raka tidak tahu kalau Oti juga habis dimarahi ayahnya maka dari itu ia memutuskan untuk kembali ke rumah Raka sore nanti meski Raka tidak memintanya.

Keesokan harinya Oti mendapat peluk dan cium dari Ticka dan Laras menyambut Oti begitu dia datang dan mengucapkan selamat karena Oti masuk final dan Ticka menyerahkan amplop kepada Oti, amplop memang dialamatkan ke rumah Ticka sebab Oti tidak mau Raka dan Ai tahu bahwa dia mengikuti acara pemilihan putri SMA. Oti melihat isi amplop itu dan melihat namanya berada di urutan ke-18 dari 20 finalis yang berhak masuk final. Oti juga melihat nama Revi berada di urutan ke-12. Dia juga masuk! Batin Oti.

Ticka mengatakan Revi juga masuk yang dijawab dengan anggukan Oti. Lalu Laras bertanya apakah Oti masih ingin maju terus. Oti terdiam sejenak lalu mengangguk dan mengatakan bahwa dia tidak akan mundur dengan semangat. Lalu Laras memberitahukan bahwa mereka akan datang ke tempat Tante Wijaya di siang harinya.

Tante Wijaya dan Iwan yang mendengar kabar lolosnya Oti ke babak final, tidak bisa menhan rasa terkejutnya. Terutama Iwan yang hanya bisa geleng-geleng kepala, seakan tidak percaya. Lalu Tante Wijaya menjelaskan bahwa dia pernah berbincang-bincang dengan Iwan jika seandainya Oti masuk final, Tante Wijaya maupun Iwan berpendapat, jika Oti ingin berhasil di final nanti, bukan hanya penampilan wajah dan rambut yang harus diubah tetapi juga gaya berjalan, cara berbicara, bahkan cara duduk harus diubah. Menderngar hal itu Oti membelalakkan matanya. Sejak saat itu, setiap akhir pekan Oti selalu mendapat latihan khusus dari Iwan, satu hal yang membuatnya tersiksa.

Di tempat bekerjanya Raka, Raka diminta untuk siaran langsung pemilihan putri SMA. Rencananya pemilihan putri SMA ini akan berformat seperti pemilihan putri Indonesia atau Miss Universe dan ada masa karantina. Finalnya akan diselenggarakan dua minggu lagi di Bandung maka dari itu radio di tempat Raka bekerja diminta untuk siaran langsung. Awalnya Raka menolak tapi mau tidak mau Raka menyetujuinya.

Beberapa hari ini Raka merasa ada yang berbeda dari Oti. Adik tirinya itu jadi lebih kalem di rumah. Gaya bicaranya pun agak berubah. Sekarang Oti tidak lagi meledak-ledak kalau ngomong. Raka sempat khawatir perubahan pada Oti menyangkut tentang dirinya bisa-bisa dia akan kena marah lagi sama ayahnya maka dari itu dia menanyakan keadaan Oti. 

Oti yang ditanya merasa bingung dan bertanya apa maksud dari pertanyaan Raka. Ai yang berada di dekat mereka mengehentikan kegiatannya mengerjkan tugas dan melihat kedua kakaknya dengan was-was, dia takut bakal berkelahi lagi.

Raka bertanya padanya, sebab akhir –akhir ini dia berubah jadi lebih pendiam tidak seperti biasanya. Tapi Oti mengelak dan justru bertanya pada Ai apa dia merasa ada yang berubah. Yang ditanya hanya mengangkat bahu dan diam-diam tersenyum geli melihat tingkah Oti. 

Ai tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia tahu kakaknya masuk final dari majalah remaja milik temannya, Oti sendiri juga sudah mengakui hal itu dan minta agar Ai tidak memberitahu Raka. Oti menjelaskan untuk tidak mengkhawatirkannya dan tersenyum. Baru kali ini Raka melihat senyum Oti begitu manis.

Setelah itu Oti minta ijin untuk pergi seminggu, alasannya menginap di rumah temannya karena orang tuanya sedang keluar kota selama seminggu. Oti juga bilang bahwa dia akan memberitahu papanya sehingga Raka tidak perlu khawatir. Raka menatap tajam ke arah Oti, lalu bertanya bahwa Oti mau ikut karantina untuk pemilihan putri SMA. Pertanyaan itu membuat Oti terenyak karena di luar perkiraannya.

Dengan terbata-bata Oti menanyakan dari mana Raka tahu hal itu. Raka pun menjelaskan bahwa dia akan menyiarkan secara langsung pemilihannya, awalnya dia tidak percaya tapi data diri menjelaskan semua tentang diri Oti. 

Setelah itu Raka mengatakan bahwa dia tidak berhak melarang kegiatan apa yang diikuti Oti selama kegiatan itu baik. Jadi intinya Raka menyetuji Oti untuk ikut karantina dan membuat Oti begitu senang dan tak sadar memeluk Raka yang ada disampingnya. 

Oti tersadar dan meminta maaf setelah melepas pelukannya, wajahnya mulai memerah begitu pun dengnan Raka. Meskipun mereka adik-kakak, tapi pelukan tadi membawa perasaan aneh di antara mereka berdua, apalagi wajah mereka sebelumnya belum pernah sedekat itu.

Baru dua hari Oti pergi, Raka merasa ada sesuatu yang hilang di rumahnya. Tidak tahu kenapa keadaan rumah menjadi sepi. Saat Oti ada di ruamh, sering terdengar teriakannya yang cempreng, apalagi kalau nonton TV pasti ada saja komentar yang keluar dari bibir mungilnya. 

Ai pun menduga bahwa kakaknya merindukan Oti dilihat dari Raka yang berdiri di depan pintu kamar Oti, tapi Raka mengelak dan jawaban Raka tidak berhasil menghapus kecurigaan Ai. 

Raka merenungi perkataan Ai, apa benar dia rindu sama Oti? Raka sendiri tidak yakin lalu beranjak menuruni tangga. Tanpa sepengetahuannya Ai mengintip tingkah laku Raka melalui pintu kamarnya yang sedikit terbuku dan menduga perasaan Raka.

Besok adalah puncak acara Pemilihan Putri SMA se-Indonesia. Tapi malam itu Oti tidak dapat tidur. Udara dalam kamarya terasa panas meski sudah dipasangi AC. Oti memandang teman sekamarya, Risma yang berasal dari Sumatera Barat, dia terlihat tertidur pulas mungkin kecapekan. 

Oti merasa kegiatan yang dijalaninya selama karantina membosankan tapi demi persaingannya dengan Revi, terpaksa dia harus mengikuti semua acara itu.

Tiba-tiba Oti teringat sesuatu. Dia mengambil tas tangan yang dipinjamnya dari Laras. Dari dalam tas dia mengambil HP-nya. HP-.nya dalam keadaan mati sejak tadi pagi, karena panitia melarang para finalis menghidupkan HP saat acara sedang berlangsung dan saat semua acara sudah selesai, Oti lupa menyalakannya lagi.

Begtitu banyak pesan  yang masuk di HP-nya begitu dihidupkan dan membaca pesan-pesan itu sebagian besar dari teman-temannya dan juga dari Bayu yang memberinya semangat. Oti cuma tersenyum membaca pesan-pesan itu. Pesan yang terakhir menarik perhatiannya. Pesan itu dikirim dari nomor hp seseorang yang dikenalnya, Raka!

Entah apa yang mendorongnya, jari tangan Oti menekan no HP Raka. Terdengar nada tunggu beberapa saat, sebelum terdengar suara Raka. Begitu Raka mengangkatnya buru-buru Oti memutuskan hubungan telepon. Ia jadi salah tingkah sendiri, ia sendiri tidak tahu mengapa Raka yang dihubunginya, bukan temannya yang lain atau Bayu. Tidak lama kemudian Raka meneleponnya kembali.

Setelah itu mereka ketemuan di depan hotel dan makan mi goreng. Raka tahu alasan Oti untuk ikut pemilihan ini dan Raka pun memberikan perhatiannya pada Oti dengan hangat bahkan Raka pun mengembalikan semangat Oti yang sempat down.

Malam minggu. Malam Pemilihan Putri SMA Indonesia dimulai jam 7 malam tepat. Aula Hotel Horison sudah penuh penonton, baik undangan maupun yang membeli tiket masuk. Rombongan anak SMA Yudhawastu pun kelihatan berkumpul di salah satu sisi ruangan. 

Mereka datang untuk memberi dukungan kepada wakil mereka, terutama pada Oti. Bayu juga ada disana di antara anak-anak kelas dua yang ternyata sebagian malah mendukung Oti, bukan Revi. Ai juga datang bersama teman-temannya, mereka mendapat undangan dari Oti.

Risma teman Oti merasa gugup saat mereka berdua yang siap tampil. Tapi Oti menyemangatinya untuk tidak takut. Beberapa saat kemudian acara segera dimulai dan para finalis diminta untuk bersiap-siap masuk kepanggung. 

Raka yang siap di posisinya membelalakan matanya melihat Oti yang sekarang. Kini Oti menjelma bak putri dari negeri dongeng. Bukan hanya Raka semua yang mengenal Oti pun tdiak percaya melihat penampilan Oti dan Bayu hanya bisa melongo melihatnya, padahal Revi dan finalis lain juga tidak kalah cantiknya dengan Oti.

Pertandingan pun dimulai dengan suasana yang tegang, bahkan mereka pun harus menjawab pertanyaan yang ada. Babak pertama ini Oti berhasil lolos dan masuk lima finalis yang terpilih untuk ke tahap berikutnya. 

Lima finalis bersiap-siap untuk menampilkan bakat mereka masing-masing.  Revi tampil membawa My Heart Will Go On-nya Celine Dion. Suaranya lumayan bagus, dia dapat memukau penonton yang hadir. Tepuk tangan riuh mengiringi berakhirnya penampilan Revi.

Kini giliran Oti yang maju untuk menampilkan bakatnya. Dengan langkah lunglai, Oti naik ke panggung diiringi tepuk tangan penonton. MC mengatakan bahwa Oti memiliki bakat yang unik, yang rasanya mustahil untuk dapat diperlihatkan secara langsung di sini. 

Oti heran mendengar perkataan sang MC. MC tersebut kemudian menjelaskan tentang bakat yang dimiliki oleh Oti yaitu menulis cerita pendek. Oti tertegun karena merasa tidak pernah mencetak cerpen itu dan Oti menduga pasti Raka yang  melakukannya.

Kelima finalis sudah berkumpul di panggung. Mereka berganti pakaian, masih memakai gaun hanya model dan motif yang berbeda dan rambut yang disanggul ke belakang. Kini MC mulai membaca finalis yang memenangkan kontes ini. 

Favorit kedua ialah Cindy Kasenda, wakil dari SMA Negeri 2 Menado, Sulawesi Utara. Favorit pertama ialah Risma Listamawar, wakil dari SMA Negeri 1 Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Juara ketiga direbut oleh Bella Rizkyani Ayu, peserta dari SMA Prapanca, Jakarta. 

Kini tinggal tersisa Oti dan Revi, teman-teman Oti semua berdoa semoga dia yang mendapatkannya dan mereka juga menerikkan nama Victory dan mengacungkan jari membentuk huruf V. MC kembali mengumunkan yang memperebutkan gelar Putri SMA tahun ini jatuh kepada Victory Febriani.

Semua orang bersorak gembira ketika Oti dinobatkan sebagai Putri SMA, mahkota dan tongkat di serahkan padanya, Oti hanya berusaha menahan perasaan agar tidak menangis sedangkan Revi tidak percaya tentang semua ini. 

Lalu Oti menghampiri MC dan minta waktu bicara sejenak. Dia berterima kasih sekaligus meminta maaf sebelumnya pada dewan juri dan semua orang yang telah mendukungnya dan mengatakan bahwa dia mengundurkan diri sebagai Putri SMA yang otomatis akan diserahkan pada runner up atau Revi. Setelah kontes itu berakhir Oti berterima kasih pada Raka karena telah mengirim cerpennya pada juri.

Beberapa hari setelah kontes itu, Bayu menghampiri Revi dan menanyakan rencana apa yang akan dia berikan pada Oti. Bayu kenal betul sifat Revi, dia akan membalas jika ada yang mempermalukan dia atau mengalahkannya. 

Bayu memperingatkan Revi untuk tidka melakukan hal-hal bodoh yang seperti biasa dia lakukan atau dia akan menerima sesuatu yang buruk. Maka dari itu Revi membatalkan janjinya pada orang suruhannya yaitu Riki mengenai rencananya.

Malam minggunya Oti diajak Ticka ke diskotek. Mulanya Oti dan Laras tidak mau, karena mereka berdua belum pernah kesana. Beda dengan Ticka yang pernah clubbing walaupun cuman sekali bareng kakaknya. 

Tapi Ticka maksa yang akhirnya mereka pun pergi dan janji jika mereka tidak betah akan langsung pulang. Sesampainya di sana ketika mereka ingin parkir mereka lihat Laras yang sudah tidur dengan damainya. 

Tiba-tiba terdengar suara Ticka bahwa dia melihat anggota Fiesta bertengkar dengnan segerombolan cowok. Bahkan Revi ditarik ke dalam mobil. Melihat hal itu Oti tidak bisa diam saja dan langsung turun untuk membantu Fiesta dan menyuruh Ticka untuk meminta bantuan keamanan, dengan segera Ticka tancap gas yang membuat Laras terbangun.

Oti datang membantu anggota Fiesta. Kali ini anggota Fiesta memandang Oti bukan sebagai orang yang mereka benci tapi sebagai dewi yang akan menyelamatkan mereka. Oti berkelahi dengan cowok-cowok itu, meskipun Oti jago bela diri, Oti juga mengalami kesulitan karena Oti juga sendiri. 

Meskipun begitu Oti tetap mampu melawan mereka. Sehingga salah satu dari mereka yang bernama Riki mengeluarkan  pistol dari saku celananya, Oti terpana melihat pistol yang dipegang Riki. Sebelum Riki menembak Oti terdengar suara teriakan dari petugas keamanan khusus diskotek berlari ke arah mereka diikuti Ticka dan Laras dan saat itulah Revi menyambar tangan Riki yang memegan pistol dan mengigitnya. 

Riki merasa kesakitan dan menampar Revi hingga cewek itu tersungkur. Riki mengambil pistolnya yang sempat jatuh dan ingin menembak Revi, tapi sebelum itu terjadi Oti segera melompat ke arah Riki yang hendak menembak Revi.

DOR! Oti berdiri tepat di depannya menghalangi Riki yang akan menembak dirinya. Darah mengalir dari perut cewek itu. Laras dan Ticka berteriak nama Oti hampir berbarengan melihat kejadian itu. Riki ditangkap oleh petugas keamanan dan Oti yang pingsan segera dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi. 

Setelah menjalani operasi, Oti harus menginap beberapa hari di rumah sakit. Ketika pertama kali Oti sadar, Laras dan Ticka kompak menangis tersedu-sedu disamping tempat tidurnya. Sedangkan Ai terisak dipelukan Raka.

Selama Oti belum  dipastikan apakah dia sudah boleh untuk pulang Raka menjaganya sebab Ai tidak bisa karena kegiatan sekolah dan Raka juga tidak memberitahu hal ini pada orang tuanya sesuai pesan Oti. Di rumah sakit Revi juga meminta maaf atas kesalahannya selama ini baik itu pada Oti maupun juga pada Laras dan Ticka sehingga mereka menjadi teman. 

Setelah mereka pulang Raka masuk ke kamar Oti malam itu awalnya Raka sudah pamit untuk pulang tapi Raka melupakan pakaian kotor Oti. Ketika Raka masuk dilihatnya Oti sudah tidur. Ia tidak tega membangunkan adiknya itu. Setelah mengambil kantong plastik berisi pakaian kotor Oti, Raka bermaksud keluar. Tetapi sesuatu membuatnya menahan niatnya. Ia kemudian berdiri di samping tempat tidur Oti sambil melihat wajah adiknya. Tampak sesungging senyuman tergambar di bibirnya, membuat wajah cewek rambut yang sebagian menutp kening cewek itu. 

Oti tidak tergbangun karena gerakan tangan Raka, dia benar-benar terlelap. Entah kekuatan apa yang mendorongnya, Raka membungkuk dan mencium kening Oti yang putih bersih. Raka mencium kening adiknya dengan penuh kasih sayang dan mengucapkan selamat malam pada Oti dengan lirih, kemudian meninggalkan ruang VIP itu. Sepeninggalnya Raka, perlahan mata Oti terbuka. 

Cewek itu ternyata sudah terbangun. Sejenak Oti terdiam memandang ke arah pintu kamarnya dan mengucapkan selamat malam juga pada Raka dengan lirih. Senyum mengembang di bibir mungilnya.

Oti sudah keluar dari rumah sakit. Tapi dia tetap harus istirahat lagi di rumah hingga lukanya kering. Dia juga tidak boleh banyak gerak untuk mempercepat penyembuhannya. Karena itu praktis selama Oti di rumah, Raka sibuk melayani kebutuhannya, bergantian dengan Ai. Tapi nggak tau kenapa, paling sering Raka yang melayani Oti, dan anehnya dia senang melakukan tugasnya itu. 

Dia senang menemani Oti makan, dan berbincang-bincang dengannya. Bahkan kini Raka jarang ke rumah Ajeng, saat libur atau malam minggu. Untung aja Ajeng dapat menerima alasan Raka merawat Oti. Ajeng juga pernah menjenguk Oti di rumah.

Selain Laras dan Ticka, orang lain ya.g sering menjenguk Oti adalah Bayu. Terus terang kalo Bayu datang, ada perasaan lain di hati Raka, seperti muncul perasaan cemburu di hatinya. Raka sendiri udah berusaha mengusir perasaan itu. Dia tahu dirinya nggak boleh jatuh cinta pada Oti yang notabene adalah adik tirinya. 

Dia berusaha bersikap biasa dan sok nyibukin diri kalo Bayu datang. Tapi perasaan itu terus mengusik hatinya. Apalagi kalo ngelihat Bayu dan Oti ngobrol berdua dengan akrab, bahkan kadang-kadang mesra. Oti ketawa lepas, bahkan sampe ngakak, seolah-olah bahagia kalo ada di dekat Bayu. Jam tujuh malam, Bayu baru aja pulang. 

Sementara itu, hujan mulai turun di luar rumah. Sekarang emang udah memasuki musim hujan. Raka lagi manasin sop bikinan Ai tadi sore, untuk makan malam mereka. Ai sendiri abis magrib pergi ke rumah tetangganya yang juga satu sekolah dengannya. Selesai manasin sop, Raka naik ke kamar Oti.

Raka menawarakan Oti apakah dia ingin makan di kamarnya atau di bawah. Oti menagatkan bahwa ia ingin makan di bawah dan dia meringis kesakitan di bagian perutnya. Raka membantunya dan memapah tubuh Oti menuruni tangga. Tangannya sedikit bergetar ketika memegang tubuh Oti yang hangat. 

Ketika mereka sampai di anak tangga terbawah, tiba-tiba lampu di rumah mereka padam. Oti menjerit spontan dia memeluk tubuh Raka, membuat Raka jadi sedikit gelagapan dan tidak lama kemudian lampu menyala, Raka melonggarkan pelukannya, Oti meminta maaf karena refleks dan setelah itu juga Ai sampai dirumah.

Setelah beberapa hari istirahat di rumah, akhirnya Oti kembali ke sekolah. Dan sialnya, saat dia masuk bertepatan dengab Ujian Tengah Semester (UTS). Jadi Oti harus jungkir balik belajar, apalagi untuk pelajaran yang nggak dia ikutin selama nggak masuk waktu pemilihan Putri SMA dan pas dia di rumah sakit. Untung ada Ticka dan Laras yang siap membantunya. 

Pandangan matanya tertuju ke arah Revi dan teman-temannya yang berkerumun di sudut lain kantin. Revi pun kebetulan melihat ke arahnya, dan tersenyum. Suasana di sekolah emang udah berubah. Revi cs kini nggak lagi bersikap arogan di sekolah. Mereka udah mau bergaul dengan anak-anak lainnya. Rina bahkan keliatan sering ngobrol dengan Laras. 

Ternyata kedua cewek itu punya hobi yang sama, yaitu memelihara kucing. Laras punya beberapa koleksi majalah mengenai kucing dari luar negeri, dan Rina sering meminjamnya. Demikian juga Ticka, Wida, dan Amy, yang walaupun terlihat masih canggung kalo bertemu, mereka semua nggak menampakkan permusuhan. 

Selain itu, ada satu perubahan lagi yang nggak begitu terlihat. Akhir-akhir ini Oti jarang keliatan berdua dengan Bayu di sekolah. Emang hanpir nggak ada yang memerhatikan hal itu, karena keduanya bersikap biasa saja di sekolah, bahkan saat bertemu. Tapi ada satu orang yang memerhatikan apa yang terjadi di antara mereka. Dan orang itu Revi.

Bayu menceritakan pada Revi bahwa jam pemberiannya dikembalikan dengan alasan. Oti tidak mau terikat dengan pemberian Bayu. Bayu pun juga sudah memberitahukan perasaannya pada Oti tapi Oti hanya bilang dia tidak mau memikirkan hal itu.

Revi bertanya pada Oti mengapa Oti tidak menerima Bayu dan bukankah dia juga suka sama Bayu? Oti menjawab bukan berarti dia bisa mencintai dia. Revi merasa bingung dengan jawaban Oti. Oti menjelaskan lagi bahwa sebenarnya Bayu mencintai seseorang selama ini hanya saja dia belum menyadarinya. 

Oti bertanya pada Revi apakah dia suka sama Bayu atau tidak. Revi kaget mendengar pertanyaan itu dan mengakui bahwa dia memang menyukai Bayu sejak pertama kali masuk SMA. Oti pun menjelaskan bahwa orang yang dicintai Bayu adalah dia yaitu Revi.

Di sisi lain Ajeng berdiri berhadapan dengan Raka. Matanya terpejam memberikan kesempatan bagi Raka untuk mencium bibirnya. Raka sedikit menunduk dan ingin mencium bibirya namun terhenti. Raka mengatakan bahwa dia tidak bisa melakukan hal itu sambil memalingkan wajahnya. Saat hendak mencium Ajeng, dia seperti melihat wajah orang lain dan itu yang membuatnya tidak dapat melanjutkan niatnya.

Ajeng menebak itu karena Oti. Raka hanya memandang ke mata Ajeng. Mata yang memancarkan sinar kasih sayang dan kelembutan. Raka hanya diam. Dalam hati dia mengakui dia tidak bisa melupakan bayangan Oti. 

Ajeng sudah menduga bahwa Raka bukan hanya menganggap Oti sebagai adiknya lagi, Ajeng juga mengatakan bahwaRaka mencintai Oti, tapi Raka mengatakan itu tidak mungkin. Ajeng mengatakan itu mungkin karena mereka tidak memiliki hubungan darah dan Oti hanya adik tirinya. Ajeng tersenyum dan mengatakan dia bersyukur bahwa semuanya belum terlambat dan menryuruh Raka untuk pergi siaran. Lalu raka pun pergi dengan motornya.

Malam minggu kali ini dilewatkan Oti sendirian. Tidak ada Bayu yang ngajak jalan. Ticka sebenarnya mengajak dia keluar, Revi juga ngajak clubbing. Tapi semua ditolak Oti. Tidak tahu kenapa, malam minggu ini Oti ingin menikmati kesendiriannya dirumah. 

Benar-benar sendiri Ai sudah di jemput teman-temannya sesama remaja masjid di sini. Sementara Raka malam ini harus siaran. Oti merasa bosan di rumah dan bertanya Raka sedang siaran apa  lalu tiba-tiba Oti ingin mendengar suara kakaknya itu melalui radio. Akhirnya, daripada tidak tahu harus apa, Oti menuju kamarnya. Dia menghidupkan stereo set-nya, mengubah ke mode radio dan mencari gelombang Qly FM.

Lalu Oti mendengar suara Raka di radio yang mengatakan bahwa dia akan memutar lagu yang spesial untuk orang yang kita sayangi. Lagu ini khusus untuk orang yang ia tahu sangat menyukai lagu ini dan bisa menyanyikannya dengan baik. 

Seseorang yang sangat ia sayangi dan akan selalu ia rindukan. Setelah mengatakan itu lagu mulai diputar dan lagu itu adalah Love Destiny dari Ayumi Hamasaki. Lagu yang pernah Oti bawa saat babak awal pemilihan putri SMA. Oti tercengang, pasti Raka tidak menyangka bahwa dia mendengar radio. Tiba-tibabadan Oti merasa panas dingin. Diam-diam merasakan ada sesuatu yang lain di hatinya. Sesuatu yang sudha lama dipendamnya.

Selesai siaran Raka keluar dari ruang siaran dan diberitahu bahwa ada yang menunggunya di lobi. Dengan penasaran Raka menuju lobi dan melihat Oti lagi duduk. Oti tersenyum sambil melambaikan tangannya melihat kedatangan Raka. Raka heran, tumben Oti datang ke tempat siarannya, soalnya selama ini Oti tidak pernah datang ke studio Qly.

Oti bertanya setelah ini Raka akan pergi kemana dan dijawab Raka akan langsung pulang. Oti mengajaknya untuk jalan-jalan sekalian mencari makan. Tapi Raka mengatakan ini sudah malam dan Oti mencoba membujuknya. Sebetulnya justru Raka mengharapkankan saat-saat seperti ini. Saat berdua dengan Oti. Hanya saja dia terkejut karena permintaan Oti yang tiba-tiba.

Inilah malam minggu pertama Raka berdua dengan Oti. Mereka berdua muter-muter keliling kota Bandung. Melewati jalan Dago yang selalu macet pas malam minggu, dan menikmati jagung bakar di Lembang. Kebetulan saat itu langit sangat cerah. Bulan purnama terlihat membundar dengan jelas, sementara bintang-bintang bertaburan di langit, seakan nggak menyisakan satu pun ruang yang kosong.

Raka tersentak mendengar ucapan terima kasih Oti karena Raka sudah memutarkan lagu untuknya. Raka berusaha menjelaskan kata-kata yang dia ucapkan tadi tapi Oti langsung beranjak dari duduknya dan mengambil jagung bakar yang sudah matang. 

Oti memandang takjub ketika melihat lampu-lampu yang menyala seperti kunang-kunang dan Raka mengatakan bahwa ada tempat yang bisa melihat Bandung dengan jelas lalu Oti memintanya untuk membawanya saat itu juga, Raka mengatakan tempat gelap dan sepi tapi Oti tetap ingin pergi ke sana sehingga Raka tidak tega melihat wajah melasnya itu dan membawanya untuk kesana setelah menghabiskan jagung bakar.

Tempat yang dimaksud Raka adalah menara setinggi lima puluh meter yang digunakan untuk me-relay siaran TV. Menara ini terletak di atas sebuah bukit kecil dekat Gunung Tangkuban Perahu. Kebetulan Raka kenal penjaga menara itu, seorang pria berusia lima puluh tahunan yang memang penduduk sekitar daerah tersebut. 

Hampir setengah jam waktu yang dibutuhkan Raka dan Oti untuk naik ke puncak menara. Oti sampe berkeringat pas sampe di atas. Untung di atas menara angin bertiup sangat kencang, sehingga dalam sekejap keringat yang membasahi seluruh tubuh Oti udah kering. Raka menunjuk ke arah Bandung yang memang seperti hamparan cahaya berkilauan. Lebih jelas dari pada yang tadi.

Oti berdiri di samping Raka dan berdecak kagum melihatnya. Oti sempat menggigil hebat karena angin pegununan dan Raka memberikan jaketnya setelah melihat Oti yang kedinginan. Disana Raka tersenyum sambil memandang Oti, demikian juga Oti. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Raka. Untuk beberapa saat lamanya keduanya hanya terdiam. Hanya saling memandang dengan pandangan penuh arti.

Kemudian entah siapa yang memulai, Raka mendekatkan bibirnya ke bibir Oti, demikian juga Oti. Keduanya berciuman dengan penuh kehangatan. Tiba-tiba Raka melepaskan ciumannya. Oti terenyak mendengar ucapan Raka. Raka mengatakan bahwa Oti adiknya, dia tidak boleh jatuh cinta. Raka hendak berlalu tapi Oti menahannya dan mengatakan bahwa mereka bukan saudara kandung dan sama sekali tidak ada hubungan darah sambil memandang Raka.

Raka pun mengatakan apa bedanya? Ayah dan Tante Heni pasti tidak akan setuju dengan hubungan itu. Oti memanda Raka tajam dan mengatakan jika Raka tidak mau jatuh cinta mengapa selama ini dia memperhatikan dirinya, Raka hanya menjawab karena dia adalah adiknya. 

Lalu Oti bertanya kembali mengapa Raka mencium keningnya waktu itu, Oti mengatakan bahwa dia bisa merasa itu bukan ciuman kakak untuk adiknya. Raka terkejut mengetahui Oti tahu hal itu. Juga Oti mengatakan bahwa ciuman itulah yang membuatnya terus memikirkan Raka hingga akhirnya dia jatuh cinta padanya dengan suara bergetar.

Mata Oti berkaca-kaca. Raka hanya memandang wajah adiknya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya diliputi rasa penyesalan, karena membawa adiknya ke dalam cinta yang sebenarnya tidak diinginkannya. Bagaimanapun juga perasaan tidak bisa berbohong dan tidak bisa dibohongi. Dia memang mencintai Oti dan kalau mau jujur, Raka sebenarnya bahagia mengetahui Oti mermiliki perasaan yang sama kepadanya.

Oti mendesah dan meminta maaf jika hanya mengusik perasaan Raka juga mengatakan bahwa Raka pasti lebih memilih Ajeng dari pada dirinya. Oti hendak pergi dari Raka, kini giliran Raka tidak bisa membohongi perasaannya lagi. 

Dia benar-benar mencintai Oti dan membtuhkan dia tidak perdli apa reaksi ayahnya dan Tante Heni. Tangan Raka mencengkeramn Oti yang hendak pergi meninggalkannya. Raka merengkuh pundak Oti dan membalik tubuh cewek itu hingga kehadapannya dan dengan cepat memeluknya. Raka mengungkapkan perasaannya pada Oti sambil memeluk erat dan Oti pun membalas pelukannya. Air mata mengalir di kedua mata Oti. Air mata kebahagiaan.

Awalnya mereka menyembunyikan hubungan mereka, tapi akhirnya ketahuan juga oleh Ai meskipun cemas tapi ternyata Ai mengharapkan hal ini terjadi diantara mereka dan ikut menyembunyikan hal ini dari orang tua mereka. Oti juga menceritakan hubungannya dengan Ticka dan Laras, awalnya mereka terkejut tapi mereka akhirnya mengerti.

Hampir sebulan mereka berpacaran tapi sayang cinta mereka harus mengalami masalah yang sulit, karena orang tua mereka telah mengetahuinya secara tidak sengaja Ai mengatakan tentang hubungan kakaknya pada saat ayahnya menelepon dan tentu saja hal itu membuat ayah mereka marah besar dengan segera langsung datang ke Bandung.

Ayah mereka melarang keras hubungan itu dan menyuruh mereka untuk memutuskan hubungan itu yang membuat Oti dan Raka merasa terpukul. Mereka ingin tahu alasannya tapi ayahnya tetap tidak memberitahu. Setelah keesokkan harinya Oti pergi bersama ibunya ke Jakarta untuk berziarah ke makam papanya Oti, papa Ardi. Di sanalah Oti mengetahui alasan mengapa ayah Raka sangat menentang hubungan mereka. Oti tidak sengaja mendengar percakapan ibunya dan neneknya yang mengatakan bahwa Oti dan Raka sebenarnya saudara kandung dan Oti sebenarnya anak dari ayahnya Raka bukan dari papa Ardi.

Setelah mengetahui hal itu dan ketika kembali ke Bandung Oti ingin bicara dengan Raka. Disitulah Oti menjelaskan bahwa mereka haru memutuskan hubungan mereka. Raka yang mendengar itu tidak setuju dan ingin tahu apa alasannya sehingga Oti bisa mengatakan hal itu. Lalu Oti pun menjelaskan apa yang telah ia dengar sewaktu di Jakarta. 

Raka benar-benar tidak bisa mempercayainya begitu pun juga dengan Oti tapi mamanya telah menjelaskan semuanya setelah Oti mendesaknya. Hati mereka berdua begitu terpukul mengetahui kebenaran itu. Oti juga mengatakan bahwa ia setuju untuk pindah sekolah ke London dan tinggal bersama papa-mamanya. Mereka pun berjanji mereka akan seperti kakak dan adik. Tiba-tiba Raka memeluk Oti erat sekali. Oti menyuruh Raka untuk kembali bersaama Ajeng.

Dengan berat hati Raka melepaskan cintanya dan sebulan telah berlalu waktunya Oti untuk berangkat. Kini dia dan mamanya berada di bandara Soekarno-Hatta, disana ada Ai, Ticka, Laras dan Revi. Oti tidak tahu apakah Raka benar-benar sibuk seperti yang dikatakannya atau hanya alasannya untuk menghindar darinya. 

Mamanya mengajak Oti untuk check in sekarang, Oti mengangguk seraya memandang adik dan teman-temannya. Oti mendekati Ai memintanya untuk menjaga Raka dan berpamitan padanya juga pada temannya yang lain. Kini giliran mamanya yang berpamitan pada Ai dan mencium kedua pipi Ai kemudian yang lainnya.

Oti mengucapkan selamat tinggal dan melambaikan tangan. Oti tersenyum kemudian sambil mendorong kereta berisi koper-kopernya, ia dan mamanya melangkah masuk untuk check in. Selanjutnya mereka akan menunggu keberangkatan di ruang duduk khusus penumpang. Dari balik kaca, Oti sempat melambaikan tangan kepada teman-temannya. 

Tidak lama kemudian terdengar pengumuman boarding pesawat mereka. Mamanya bertanya pada Oti apa dia tidak mau menelepon Raka untuk terakhir kalinya sebelum mereka memasuki pesawat dan Oti mengatakan tidak sebab Ai mengatakan HP-nya tidak aktif. Baru saja Oti menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara yang amat dikenalnya memanggil namanya dari arah belakang. Itu adalah Raka, Raka bisa masuk berkat bantuan Revi.

Raka menatap Oti lalu memberikan benda yang digenggamnya. Ternyara kalung kuning keemasan yang matanya membentuk ukiran “VR”, Raka mengatakan bahwa kalung itu belum jadi tapi dia tetap memberikannya pada Oti, lalu mengatakan jika bertemu nanti kalung ini sudah tidak tergantung di lehernya lagi atau sudah tidak bersamanya lagi itu berarti Oti memang benar-benar sudah ngelupain cinta mereka dan saat itulah baru Raka bisa percaya bahwa Oti telah melupakan cintanya.

Oti memasang kalung itu di lehernya, menggantikan kalung yang dipakainya, kalungnya sendiri diberikan pada Raka sambil mengatakan hal yang sama seperti yang Raka katakan. Raka mencium kening Oti dengan lembut.

Dua tahun telah berlalu dan Raka belum juga bertemu dengan Oti, bahkan Oti tidak berusaha menanyakan kabarnya saat Ai telepon dan juga tidak menghubunginya. Kini Raka menjadi mahasiswa du Jurusan Geologi UNPAD. Sesuai dengan janjinya pada Oti untuk berusaha melupakan dia tapi tetap saja Raka belum bisa melupakannya.

Disaat Raka bersama teman-temannya mau pergi ke kantin Raka mendengar ada yang memanggilnya, suara yang sangat ia rindukan selama dua tahun terakhir. Raka menoleh dan melihat Oti berada di depannya sekarang. 

Raka tidak percaya bahwa Oti berada di sini tapi ini benar-benar Oti meski penampilannya berbeda dengan Oti yang terakhir kali dia ketemu. Oti menyuruhnya untuk menjemputnya di rumah neneknya Laras dan menyuruhnya untuk memakai pakaian yang rapi nanti malam karena Oti mau mengajaknya jalan.

Di malam harinya Raka sudah berada di rumah Laras dan menunggu Oti. Tak disangka Oti akan mengenakan gaun hitam dengan rambt digelung ke belakang. Kacamata tipis yang dipakainya menambah cantik penampilannya. Melihat itu, Raka teringat saat Oti ikut kontes pemilihan putri SMA dua tahun yang lalu.

Setelah itu mereka pergi ke sebuah restoran untuk makan malam dan mengobrol tentang dua tahun terakhir bahkan mereka juga sempat menyinggung perasaan mereka. Oti  mengatakan bahwa dia sudah bisa melupakan cintanya pada Raka dengan bukti bahwa kalung itu sudah tidak ada lagi di lehernya. Tapi Raka masih belum bisa melupakan Oti dan membuat Oti merasa kecewa. 

Oti juga sempat mengatakan bahwa itu mungkin yang terakhir kalinya mereka bertemu. Setelah itu mereka berniat untuk pulang tapi sebelum itu tiba-tiba sebuah mobil melaju ke arah mereka dengan refleks Oti mendorong Raka sehingga Raka terjatuh ke sisi lain dan selamat. Walau setelah mendorong Oti berusaha menyelamatkan dirinya namun terlambat sehingga Oti tertabrak dan terlempar beberapa meter, dan bagian belakang tubuhnya menghantam keras mobil lain.

Mobil yang menabraknya kabur. Dan Raka berteriak menyenbut nama Oti. Raka menghampiri tubuh Oti yang berlumuran darah. Oti diam tak bergerak. Raka menjerit sambil memeluk tubuh Oti.

Saat ini Oti sedang menjalani operasi di rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya. Beberapa tulangnya diketahui patah dan disertai pendalaman hebat. Di sana terdapat Ai yang tertidur dalam pelukan Laras matanya sembab sehabis menangis. 

Orang tuanya begitu mengetahui keadaan Oti langsung datang ke Indonesia. Oti berbohong mengatakan bahwa ia datang bersama ibunya, hal itu baru diketahui Raka setelah kejadian itu. Ternayta Tante Heni ada di London dan Oti pergi sendiri ke Indonesia tanpa sepengetahuan siapa pun. 

Raka bertanya pada Laras mengapa Oti melakukan semua ini? Lalu Laras menyuruhnya untuk melihat tas tangan Oti. Dengan penasaran Raka membukanya lalu membuka dompet Oti dan melihat kalung yang pernah diberikannya. Oti berbohong ketika dia mengatakan telah melupakan cintanya. Raka memperhatikan semua foto yang ada dan melihat terdapat kalung itu dipakai oleh Oti.

Oti masih mencintai Raka jelas Laras. Dia datang ke sini karena ingin bertemu dengan Raka. Oti sudah berusha keras buat ngelupain Raka tapi tdak bisa sama seprti Raka. Setelah orang tuanya berada di sana dan dokter sudah selesai mengoperasi Oti. 

Dokter menjelaskan bahwa keadaan Oti kritis dan salah satu ginjalnya rusak. Terlebih lagi saraf-saraf yang menggerakan kakinya terputus sehingga menyebabkan Oti tidak dapat berjalan. Dokter juga mengatakan Oti harus mendapatkan donor ginjal.

Mereka semua terpukul mendengar kabar itu. Bahkan ayahnya dan Raka ikut menjalani tes untuk mendonorkan ginjalnya. Tapi entah itu sebagai berita baik atau buruk. Dari hasil tes mengatakan bahwa gen Oti berbeda dengan gen yang dimiliki ayahnya, berita itu membuat Raka mendengarnya merasa senang karena mengetahui bahwa Oti tidak sedarah dengannya. 

Mereka juga khawatir karena Oti tidak mendapatkan donor. Setelah beberapa hari dokter kembali memeberikan kabar gembira bahwa Oti tidak memerlukan donor ginjal. Sebab ginjal satunya masih mampu menopang tubuhnya.

Akhirnya setelah semua berubah menjadi baik-baik saja, orang tua mereka akhirnya pun merestui hubungan mereka dan Raka meski Oti sekarang menjadi lumpuh ia tetap mencintainya setulus hatinya. Oti kini menjadi seorang penulis novel yang mana novelnya menjadi best seller dan novel itu berjudul Love Destiny.

Unsur Intrinsik Cerita "Novel Victory"

Tema

Tema adalah  pokok  permasalahan sebuah cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita.  Istilah tema sering disamakan pengertiannya dengan topik, padahal kedua pngertian ini memiliki pengertian yang berbeda

Berikut kutipannya 
"…Ini mungkin cara Tuhan mengatakan kebenaran. Cara Tuhan bilang pada semua orang, kalo kita saling mencintai, dan kita gak melakukan kesalahan apa pun. Juga cara Tuhan menguji kekuatan cinta kita…." (Victory, 2006: 103)

Di dalam kutipan itu dapat dijelaskan bahwa kebenaran tentang cinta sejati akan ditunjukkan melalui segala cobaan yang datang menghampiri sepasang kekasih itu, apakah mereka mampu melewatinya atau tidak. 

Dengan begitu semua orang termasuk diri mereka sendiri mengetahui arti cinta mereka, bahwa cinta mereka bukanlah cinta biasa dan merupakan cinta yang langka di dunia yang penuh kebohongan dan kemunafikan ini. Tuhan telah menunjukkan bahwa mereka telah memenangkan cinta yang suci dan berhasil mengalahkan rintangan dan waktu yang menghampiri mereka.

Amanat

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis kepada si pembaca melalui karyanya, yang akan disimpan rapi dan disembunyikan pengarang dalam keseluruhan cerita. Amanat yang disampaikan dalam kisah ini ialah kita bias memberikan makna mengenai cinta, keberanian, solidaritas dan kepercayaan juga kesetiaan.

“…Ketika segala sesuatu tampak tidak mungkin, kita hanya perlu percaya pada harapan dan keajaiban Tuhan…” (Victory,2006:17)

“…yang harus aku lakukan adalah mencoba.” “ aku akan ngumpulin amin dari 40 orang, it sounds stupid, I know.. but I’ll do it…” (Victory,2006:29)

“…saat aku tahu kamu adalah satu-satunya orang yang bersedia mendengarku menangis.” “kini, aku terisak...” (Victory,2006: 67)

Dari novel ini kita belajar bahwa tantangan dan kesulitan bukanlah penghalang yang jadi penghambat untuk tetap percaya bahwa cinta akan tetap menjadi milik seseorang yang saling percaya. 

Alur

Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Alur yang dipakai oleh penulis adalah alur maju-mundur. Penulis dalam alurnya terlihat berulang kali memberi cerita maju mundur ini terlihat ketika Ai teringat kembali mengenai hubungan yang dihadapi victory dan Raka sampai akhirnya mereka biasa bersama.

“ Pada hari kedua Faris masuk disekolahku, sudah ada kakak kelas yang mengiriminya surat cinta…“ (Victory,2006:163)

“…setiap gadis yang dekat dengan Faris sejak kelas satu selalu jadi omongan…“ (Victory,2006:156)

Alur cerita cinta asntara Victory dan Raka di dalam novel ini sebenarnya tidak rumit. Hanya cerita tentang dua pasang manusia yang berusaha mempertahankan dan mempercayai hati mereka masing-masing, bahwa mereka akan dapat melewati cobaan dan akan tetap bersama meski banyak cobaan dan godaan yang menghampiri hubungan mereka. 

Hal yang menarik dalam novel ini, bukanlah cerita tentang bagaimana Langit dan Biru berusaha mempertahankan hubungan mereka, namun bagaimana mereka belajar dan meminta do'a dari orang lain agar Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa tetap membuat mereka bersama.

Sudut Pandang

Sudut pandang adalah cara bagaimana penulis cerita menempatkan dirinya pada cerita, atau dari sudut mana penulis cerita memandang cerita yang di buatnya.

Penceritaan yang dituliskan oleh Morra Quatro sangat menarik untuk diikuti. Morra menulis Believe dengan sudut pandang orang pertama dimana Langit dan Biru menjadi tokoh 'aku' dalam cerita di setiap babnya. Namun, dalam narasi penceritaannya, sang tokoh tidak terlibat dalam cerita. 

Dia hanya mengulang kembali cerita yang didengar atau dilihat dari sudut pandangaku. Misal : saat bab ketika Langit menceritakan kisah tentang Jendra dan Jasmine, Attar dan Rein atau Wolf dan Arra. Sedangkan Biru yang bercerita tentang Faris, Neil, dan Ayahnya. Seolah-olah cerita per bab ditulis dengan gaya penceritaan sudut pandang ketiga.

Hal menarik lainnya yang membuat novel ini terasa begitu manis adalah bertebarannya kata-kata puitis yang menguatkan hati. Kalimat-kalimat indah yang memotivasi atau menyadarkan diri pembaca secara tidak langsung.

Melalui sebuah proses pembelajaran dari kisah Wolf, Attar dan Jendra, Langit mengambil nilai-nilai yang terkandung disana. Belajar untuk mengalahkan waktu demi cintanya kepada Biru. Belajar untuk mengambil sikap dan keluar dari zona nyaman untuk dapat tetap bersatu dengan Biru. 

Sementara biru belajar dari pengalamannya sendiri, Faris dan Neil, kedua pria itu menyadarkan Biru tentang arti Langit dalam hidupnya. Semua hal itu menambah nilai positif novel ini.

Latar Belakang

Latar belakang adalah dasr atau titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar mengenai apa yang ingin kita sampaikan. Latar belakang yang baik harus disusun dengan sejelas mungkin dan bila perlu disertai dengan data atau fakta yang mendukung.

1. Waktu

Waktu, yaitu kapan peristiwa itu terjadi, bisa masa lalu, masa sekarang atau (prediksi) masa depan.Waktu menunjukkan kapan cerita itu terjadi. Dalam cerita waktu ini bisa saja dirancang menjadi 3 bagian: waktu eksplisit, waktu implisit dan gabungan waktu eksplisit dan implisit. 

Waktu eksplisit menunjukkan dengan jelas bahwa cerita terjadi pada tahun, bulan, tanggal, hari, jam, menit, detik, pagi, atau malam tertentu, sementara itu, waktu implisit memilik perbedaan dengan waktu eksplisit. 

Waktu implisit tidak menunjukkan dengan jelas kapan peristiwa yang diceritakan terjadi. Di sini, akal sehat memiliki peranan yang cukup penting. Waktu dalam kisah cerita Biru dan Langit ada di Pagi, Siang, Senja sampai Malam. 

 “…Jam empat sore, Oti dan ibunya udah ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selain mereka, ada juga Ai yang ikut nganter, juga Ticka, Laras, dan Revi!...” (Victory, 2006:80)

Dari kutipan tersebut diketahui bahwa waktu yang diceritakan oleh si pengarang dalam kutipan tersebut adalah di sore hari dan juga menunjukkan waktu keberangkatan si tokoh utama.

2. Tempat

Tempat : di mana peristiwa dalam cerita terjadi. Tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah novel. Tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. 

Tempat dalam sebuah novel biasanya meliputi berbagai lokasi. Tempat akan berpindah-pindah dari suatu tempat ke tampat lain sejalan dengan perkembangan plot dan tokoh.

 “…Jam empat sore, Oti dan ibunya udah ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selain mereka, ada juga Ai yang ikut nganter, juga Ticka, Laras, dan Revi!...” (Victory, 2006:80)

Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Oti dan Ibunya berada di Bandara Internasional Soekarno Hatta dan selain mereka juga ada tokoh-tokoh lain yang ikut mengantar keberangkatan mereka.

3. Suasana

Suasana: suasana atau situasi dan kondisi seperti apa yang melingkupi cerita dalam novel tersebut, apakah semangat, sedih, gembira, bahagia, dll.

"Gue udah berusaha ngelupain lo. Ngelupain cinta kita. Tapi gak bisa. Mungkin karena gue bener-bener mencintai lo," (Victory, 2006:89)

Dari kutipan tersebut dapat dijelaskan bahwa si pengarang berusaha memberitahukan kepada si pembaca bahwa kalimat tersebut menunjukkan adanya ketulusan dari hati si tokoh, suasana kesedihan yang dirasakan si tokoh dan kejujuran dalam perasaannya.

Penokohan

Penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat diketahui karakter atau sifat para tokoh itu. Penokohan dapat digambarkan melalui dialog antar tokoh, tanggapan tokoh lain terhadap tokoh utama, atau pikiran-pikiran tokoh. Melalui penokohan, dapat diketahui bahwa karakter tokoh adalah seorang yang baik, jahat, atau bertanggung jawab.

Penokohan dalam cerita ini menggunakan Orang pertama pelaku sampingan, karena Penulis memuat tokoh Utama dari tokoh-tokoh lain, selain Oti dan Raka. Dan penulis lebih banyak menceritakan tokoh utama dari berbagai tokoh yang berbeda. 

Selain Oti dan raka sebagai tokoh  utama, banyak beberapa tokoh lainnya yang menjadi peran utama sampingan dibuku ini. Berikut ini ialah pembagian penokohan dalam novel Victory.

1. Protagonis

Protagonis adalah tokoh yang disukai oleh pembacanya. Biasanya, watak tokoh semacam  ini adalah  watak  yang  baik dan positif, seperti dermawan, jujur, rendah hati, pembela, cerdik, pandai, mandiri, dan setia kawan

Victory :  Pemeran utama didalam cerita. Wanita yang Tomboy, cuek, selalu membela temannya, baik dan setia.
Raka : Tenang, dewasa, baik dan setia.

2. Antagonis

Antagonis adalah tokoh yang wataknya dibenci pembacanya. Tokoh ini biasanya digambarkan sebagai tokoh yang berwatak buruk dan negative, seperti pendendam, culas, pembohong, menghalalkan segala cara, sombong, iri, suka pamer, dan ambisius

Eva : Iri dan pendendam

3. Tritagonis

Tritagonis adalah tokoh yang membantu dalam suatu cerita, baik tokoh protagonis maupun antagonis

Ai : Baik Hati dan cerewet
Ticka : Cerewet tetapi supel.
Laras : Polos Pemalu dan selalu bicara apa adanya.

Perwatakan

Perwatakan adalah pemberian watak pada tokoh suatu karya oleh sastrawan. Tokoh dalam rekaan selalu mempunyai sikap, sifat, tingkah laku, atau watak-watak tertentu

Victory :  Berwatak tomboy, cuek selalu membela temannya
Raka : Berwatak Pintar, penuh inspirasi/ide baru, gigih, rajin, pantang menyerah
Ai: Berwatak cerewet
Ticka : Berwatak Terkenal, Aktif dalam berbagai kegiatan , dan cerewet
Laras : Berwatak Baik dan Ramah.

Dari banyaknya tokoh-tokoh diatas, kisah cerita menjadi sulit dimengerti. Banyaknya pelaku utama sampingan membuat jalannya cerita menjadi maju mundur. Dan penulis lebih banyak menceritakan tokoh utama dari berbagai tokoh yang berbeda.

Gaya Bahasa

Gaya bahasa:bahasa yang digunakan pengarang dalam menulis cerita yang berfungsi untuk menciptakan hubungan antara sesama tokoh dan dapat menimbulkan suasana yang tepat guna, adegan seram, cinta atau peperangan maupun harapan. 

Gaya Bahasa yang digunakan adalah Hiperbola adalah suatu jenis gaya bahasa yang mengandung penyataan yang sengaja dilebih-lebihkan baik dari segi ukuran,jumlahnya maupun sifatnya dengan maksud untuk memperhebat frasa atau kalimat.

Berikut Kutipannya :

“…Raka menuju pintu rumahnya dengan wajah yang siap perang bermaksud untuk memarahi orang yang ada dibalik pintu tidak perduli siapa dia…” (Victory,2006:164)

Gaya bahasanya menggunakan gaya personifikasi karena penuh dengan romantisme cinta, kata-kata puitis yang menguatkan hati. Sehingga akan membuat pembacanya terlarut dalam alur cerita. 

Namun karena ada cerita yang terulang-ulang, gaya bahasanya menjadi sulit untuk dimengeri dan terkadang pembaca tergesa-gesa membacanya. Akan tetapi dibalik penulisan Gaya Bahasa yang menarik tersebut, masih terdapat celah. Waktu. 

Alur yang dipakai oleh penulis adalah alur maju-mundur, dimana masing-masing tokoh menceritakan kembali kejadian yang pernah dialami di masa lalu. Namun tidak diberi keterangan yang rinci kapan kejadian yang diceritakan itu terjadi. Lalu, tokoh tidak penting yang digunakan dalam cerita terlalu banyak. 

Isi Resensi Novel Victory

Keunggulan Buku

Novel ini mempunyai kelebihan pada covernya yang terlihat menarik sehingga dapat menarik pembaca untuk membaca isinya. Selain itu juga kelebihannya terletak pada bahasa yang di pakai sangat segar, dengan gaya bahasa anak muda jaman sekarang namun mudah untuk dipahami. Isinya pun cocok untuk dibaca oleh semua kalangan mulai dari remaja hingga orang tua sekalipun.

Kelemahan Buku

Kekurangan novel ini yaitu terdapat pada kertas yang digunakan masih menggunakan kertas buram.

Kesimpulan

Novel ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan karena Bahasa yang digunakan sungguh indah. Gaya penceritaan menarik untuk diikuti. Novel ini terasa begitu manis karena bertebaran kata-kata puitis yang mengungatkan hati.

Kalimat-kalimat yang indah memotivasi atau menyadarkannya pembaca secara tidak langsung. Mengandung nilai-nilai sastra yang cukup tinggi Namun novel ini sepertinya kurang cocok untuk dibaca oleh anak SD dan SMP karena di dalamnya mengandung cerita tentang cinta dan ada beberapa bagian yang mungkin tidak cocok untuk anak seusia mereka.

Saya tahu cerita ini hanya fiksi belaka. Tak ada yang pernah bernar-benar terjadi. Tapi ketika saya mulai membacanya, yang saya tahu adalah cinta Langit dan Biru itu tulus, dan saya sungguh mengharapkan yang terbaik untuk mereka. 

Terpisah antara waktu dan tempat bukanlah berarti hal yang mudah untuk dijalani. Tidak ada janji yang diucapkan, 

Tidak ada yang tahu kapan pastinya mereka akan kembali bertemu, jelas, kita semua tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Bukan hanya jarak yang menjadi masalah, restu orangtua pun sangatlah penting. Kita tidak bisa melangkah ke tahap yang lebih lanjut tanpa restu mereka, yakinlah, restu orangtua adalah segalanya.

Demikian artikel tentang Resensi dan Sinopsis Novel Victory, semoga dapat bermanfaat, ya!


0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya