Analisis dan Sinopsis Cerpen Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira

Analisa Cerpen Dodolitdodolitdodolibret

Analisis Cerpen Dodolitdodolitdodolibret - Pada kesempatan kali ini, kita akan menganalisis cerpen yang berjudul Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma, berikut adalah ulasan lengkapnya.

Analisis dan Sinopsis Cerpen Dodolitdodolitdodolibret

Sinopsis Cerpen Dodolitdodolitdodolibret

Cerpen ini menceritakan tentang seorang lelaki yang bernama Kiplik. Kiplik mempercayai tentang sebuah dongeng yang mengatakan bahwa jika seseorang berdoa dengan benar, orang itu dapat berjalan diatas air. 

Namun dia tau bahwa hal itu hanya sebuah perumpamaan bahwa seorang manusia bisa mendapatkan kebahagian jika dia berdoa dengan cara yang benar. Hal itu pun dia bagikan kepada orang yang ia temui. 

Lambat laun, orang - orang merasa bahwa ada benarnya juga perkataan Kiplik dan mereka pun mulai menganggap dan memanggila ‘Guru Kiplik’. Ia pun berkelana dan mengajarkan orang - orang cara berdoa yang baik dan benar.

Namun pada suatu hari, dia pergi ke pulau yang berada di tengah danau yang besar. Orang – orang yang tinggal di pulau itu minta Kiplik untuk mengajarkan cara berdoa yang benar. Kiplik pun mengajarkan mereka dan mereka mengikutinya. 

Keesokan harinya, ketika Kiplik mau pulang dan sudah berada di perahunya, orang - orang tadi mengejarnya dan berkata bahwa mereka lupa cara berdoa yang baik dan benar dan ingin Kiplik ajarkan kembali. 

Yang tidak disangka - sangka adalah mereka yang mengejar Kiplik berlari diatas air. Hal itu membuat Kiplik berpikir, apakah cara dia berdoa salah dan cara mereka berdoa benar?

Biografi Singkat Penulis

Seno Gumira Ajidarma adalah seorang penulis cerpen, karangan, dan juga penulis naskah Indonesia. Beliau lahir pada tanggal 19 Juni 1958 di Boston. Ia pun juga dikenal sebagai seorang jurnalis, photographer, dan juga penceramah. 

Bapak Seno sudah memulai menulis fiksi dari umur 16 tahun dan mulai bekerja sebagai seorang jurnalis pada umur 19. Karya – karyanya yang sangat terkenal diantara lain Manusia Kamar (1998), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994), Dilaran gMenyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah PErtanyaan untik Cinta (1996) dan juga Iblis Tidak Pernah Mati (1999).

Beliau juga mendapatkan banyak penghargaan seperti South East Asia Write Award (1997), Dinny O’Hearn Prize for Literary Translation, Kompas Daily Best Short Story Award (1993/Pelajaran Mengarang, 2007/Cinta di Atas Perahu Cadik, 2010/Dodolitdodolitdodolibret), dll. Beliau dikenal dengan cerpennya yang sering dimuat di Koran Kompas.

Isi Cerpen

Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

”Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. 

Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

”Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. 

Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.

Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

”Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. 

Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.

Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

”Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!

”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.

Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.

”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

”Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”

Analisis Cerpen Dodolitdodolitdodolibret (Unsur Intrinsik)

Tema

Cerpen “dodolitdodolitdodolibret” karya Seno Gumira A. bertemakan secara universal, yaitu tidak ada tema yang dipilih secara spesifik. Di cerpen ini membicarakan tentang dongeng namun tidak secara detail karena dongeng tersebut hanya diceritakan oleh si karakter. 

Kalaupun bertemakan religi, cerpen ini hanya menceritakan tentang kepercayaan si karakter bahwa orang akan bahagia jika mereka berdoa dengan benar dan kebesaran jiwa seseorang setelah berdoa dengan benar, bukan tentang agama tersebut. Maka dari itu, tema cerpen ini universal.

Latar Setting

Latar tempat cerpen ini berada di sebuah desa  lembah, gunung, danau, dll seperti yang ditulis oleh beliau. Hal ini dapat di buktikan melalui beberapa kutipan berikut:

“Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar”

“Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau.”

“Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Terdapat juga latar waktu, dimana sang penulis memberi tahu waktu yang digunakan dalam cerpen tersebut. Di dalam cerpen ini, bapak Seno mendeskripsikan bahwa cerita ini berada di masa lalu, ketika orang – orang sering mengembara dan sangat gampang terpengaruh dengan hal religius seperti cara berdoa, guru, dll.

Alur

Alur cerita ini adalah maju dikarenakan sang penulis selalu menceritakan tentang apa yang terjadi selanjutnya, bukan mengembalikan waktu ke masa lalu lalu maju lagi (alur maju-mundur) atau pun menceritakan tentang masa lalu si karakter.

Sudut Pandang

Sudut pandang cerpen ini adalah orang ketiga, melalui sudut pandang sang penulis.

Tokoh

Utama: Kiplik, seseorang yang pemikir karena dia memikirkan tentang cara berdoa yang benar dan juga kelebihan hal tersebut, dll. Dia juga orang yang baik dan rendah hati karena mau mengajarkan orang – orang yang meminta bantuannya dengan cara berdoa yang baik dan benar. Kiplik pun orang yang sabar karena dia menempuh perjalanan yang lama untuk mencari kebenaran cara berdoa yang baik dan benar.

Tambahan: Penduduk desa yang mempercayai Kiplik. Ada juga penduduk pulau yang sangat ini belajar dari Kiplik. Karakter – karakter ini memberi warna teresendiri untuk cerpen ini supaya tidak membosankan.

Amanat

Menurut saya, cerpen ini mempunyai beberapa amanat. Hal yang paling jelas adalah berdoalah dengan cara yang benar dan juga dengan sepenuh hati. Cerpen ini juga memberi tahu kita untuk membagi kebahagian kepada orang lain juga (dapat dibuktikan dengan Kiplik yang dengan ramahnya memberitahukan dan mengajarkan cara berdoa, walau sebenarnya cara berdoa itu tidak sepenuhnya benar). 

Kalau kita seorang guru yang dipercaya orang - orang, ajarkanlah orang - orang tersebut dengan sabar dan penuh dedikasi karena itulah inti dari menjadi guru, menyebarkan informasi dan hal yang bermanfaat bagi mereka yang percaya.

Kesimpulan

Kesimpulan dari cerita ini adalah untuk berdoa dengan cara yang benar dan sepenuh hati, karena jika kita berdoa dengan cara yang salah dan tidak dari hati kita sendiri (jika dari paksaan) tidak ada gunanya kita berdoa dan kita pun tidak akan mendapatkan kebahagian dari berdoa itu.

Anehnya, judul dan jalan cerita ini sangat tidak nyambung dan membuat kita bingung, namun judul itu menarik orang untuk baca karena judul itu ribet dan unik.

Sekian analisis dan sinopsis cerpen dodolitdodolitdodolibret, semoga bermanfaat, ya!

0Komentar

Ini adalah postingan pertama Selanjutnya